Senin, 17 Juni 2013

DASPERLINTAN "Mengenal Pestisida dan Aplikasinya" Stefanuseko

I.    PENDAHULUAN

1.1.    Latar Belakang
Penggunaan pestisida kimia pertama kali diketahui sekitar 4.500 tahun yang lalu (2.500 SM) yaitu pemanfaatan asap sulfur untuk mengendalikan tungau di Sumeria.Sedangkan penggunaan bahan kimia beracun seperti arsenic, mercury dan serbuk timah diketahui mulai digunakan untuk memberantas serangga pada abad ke-15. Kemudian pada abad ke-17 nicotin sulfate yang diekstrak dari tembakau mulai digunakan sebagai insektisida. Pada abad ke-19 diintroduksi dua jenis pestisidaalami yaitu, pyretrum yang diekstrak dari chrysanthemum dan rotenon yangdiekstrak dari akar tuba Derris eliptica (Miller, 2002). Pada tahun 1874 Othmar Zeidler adalah orang yang pertama kali mensintesis DDT (Dichloro Diphenyl Trichloroethane), tetapi fungsinya sebagai insektisida baru ditemukan oleh ahli kimiaSwiss, Paul Hermann Muller pada tahun 1939 yang dengan penemuannya ini diadianugrahi hadiah nobel dalam bidang Physiology atau Medicine pada tahun 1948(NobelPrize.org). Karena belum ada penemuan-penemuan baru, bahan arsenat ini bertahan cukup lama. Meskipun hama-hama juga sudah menunjukkan segala kekebalan. Pada akhirnya secara tidak disengaja seperti lazimnya penemuan yang lain, racun tembakau mulai diperkenalkan pada masyarakat mulai tahun 1960 diEropa (Daly et al., 1998).
Ternyata racun nikotin ini cukup efektif pula sebagai obat sekaligus racun pembasmi hama. Berbeda didaratan Eropa, di Malaysia dan sekitarnya lebih mengenal bubuk pohon deris, yang mengandung bahan aktif Rotenon sebagai zat pembunuh. Disamping itu juga dipakai bahan aktif  Pirenthin  I dan II, dan Anerin I dan II, yang diperoleh dari bunga Pyrentrum Aneraria Forium. Metodenya masih sederhana Pembuatan pun cukup sederhana, karena pada masa itu belum dikenal alat-alat industri dan pengetahuan yang cukup. Tembakau direndam didalam air selama satu hari satu malam, baru kemudian dipakai untuk menyemprot atau disiramkan. Pada tahun 1940an mulai dilakukan produksi pestisida sintetik dalam jumlah besar dan diaplikasikan secara luas (Daly et al., 1998).
Perlunya penggunaan pestisida dikarenakan pestisida ini merupakan racun yang mempunyai nilai ekonomis terutama bagi petani. Pestisida memiliki kemampuan membasmi organisme selektif (target organisme), dengan adanya pestisida ini petani sangat terantu dalam mencegah serangan hama dan penyakit yang mengganggu hasil panen produk petani baik pada pra tanam, tanam, pemeliharaan, panen, sampai pasca panen keberadaan pestisida ini memiliki andil besar untuk mempertahankan produk pertanian (Tarumingkeng, 2008).
Tetapi pada praktiknya pemakaian pestisida dapat menimbulkan bahaya pada organisme non target. Berbagai dampak dapat disebabkan oleh penggunaan pestisida mulai dampak yang tak terlihat seperti residu hingga dampak keracunan baik bagi tanaman maupun manusia yang menggunakannya. Dampak negatif terhadap organisme non target meliputi dampak terhadap lingkungan berupa pencemaran dan menimbulkan keracunan bahkan dapat menimbulkan kematian bagi manusia (Tarumingkeng, 2008).
Manfaat mempelajari pestisida ini adalah agar dapat lebih mengenal dan mengetahui apa itu pestisida, golongan, dan formulasinya, dan dampak yang tejadi akibat penggunaan pestisida ini sehingga kita dapat memilah mulai dari jenis tanaman, golongan dan jenis pestisida yang akan digunakan sesuai dan dampak yang dihasilkan semaksimal mungkin untuk dihindarkan dan juga formulasi pestisida yang aman untuk digunakan dengan menimbang dampak yang terjadi tidak merusak lingkungan dan ekosistem.

1.2.    Tujuan
Adapun tujuan dari prektikum ini adalah agar mahasiswa mengetahui dan dapat membedakan formulasi pestisida serta agar mahasisiwa dapat mengetahui dan menentukan formulasi pestisida yang lebih aman untuk diaplikasikan serta mengetahui kelemahan-kelemahan dalam aplikasinya.
II.    TINJAUAN PUSTAKA
   
2.1.    Definisi Pestisida
Pestisida secara harfiah berarti pembunuh hama, berasal dari kata pest dan sida. Pest meliputi hama penyakit secara  luas, sedangkan sida berasal dari kata “caedo” yang berarti membunuh. Pada umumnya pestisida, terutama pestisida sintesis adalah biosida yang tidak saja bersifat racun terhadap jasad pengganggu sasaran. Tetapi juga dapat bersifat racun terhadap manusia dan jasad bukan  target  termasuk tanaman, ternak dan organisma berguna lainnya (Tarumingkeng, 2008).
Pestisida secara umum diartikan sebagai bahan kimia beracun yang digunakan untuk mengendalikan  jasad penganggu yang merugikan kepentingan manusia. Dalam sejarah peradaban manusia, pestisida telah cukup lama digunakan terutama dalam bidang kesehatan dan bidang pertanian. Di bidang kesehatan, pestisida merupakan sarana yang penting. Terutama digunakan dalam melindungi manusia dari gangguan secara langsung oleh jasad tertentu maupun tidak langsung oleh berbagai vektor penyakit menular. Berbagai serangga vektor yang menularkan penyakit berbahaya bagi manusia, telah berhasil dikendalikan dengan bantuan pestisida. Dan berkat pestisida, manusia telah dapat dibebaskan dari ancaman berbagai penyakit berbahaya seperti penyakit malaria, demam berdarah, penyakit kaki gajah, tiphus dan lain-lain (Tarumingkeng, 2008).
Pestisida merupakan racun yang mempunyai nilai ekonomis terutama bagi petani. Pestisida memiliki kemampuan membasmi organisme selektif (target organisme), tetapi pada praktiknya pemakian pestisida dapat menimbulkan bahaya pada organisme non target. Dampak negatif terhadap organisme non target meliputi dampak terhadap lingkungan berupa pencemaran dan menimbulkan keracunan bahkan dapat menimbulkan kematian bagi manusia (Tarumingkeng, 2008).
Di bidang pertanian, penggunaan pestisida juga telah dirasakan manfaatnya untuk meningkatkan produksi. Dewasa ini pestisida merupakan sarana yang sangat diperlukan. Terutama digunakan untuk melindungi tanaman  dan hasil tanaman, ternak maupun ikan dari kerugian yang ditimbulkan oleh berbagai jasad pengganggu. Bahkan oleh sebahagian besar petani, beranggapan bahwa pestisida adalah sebagai  “dewa penyelamat” yang sangat vital. Sebab dengan bantuan pestisida, petani meyakini dapat terhindar dari kerugian akibat serangan jasad pengganggu tanaman yang terdiri dari kelompok hama, penyakit maupun gulma. Keyakinan tersebut, cenderung memicu pengunaan pestisida dari waktu ke waktu meningkat dengan pesat (Tarumingkeng, 2008).
Di Indonesia,  disamping perusahaan perkebunan, petani yang paling banyak menggunakan berbagai jenis pestisida ialah petani sayuran, petani tanaman pangan dan  petani tanaman hortikultura buah-buahan. Khusus petani sayuran, kelihatannya sulit melepaskan diri dari ketergantungan penggunaan pestisida. Bertanam sayuran tanpa pestisida dianggap tidak aman, dan sering kali pestisida dijadikan sebagai garansi keberhasilan berproduksi.
.
2.2.    Penggolongan Pestisida
2.2.1.    Jenis Pestisida Menurut Jasad Sasaran.
Menurut Kementrian Pertanian (2011), ditinjau dari jenis jasad yang menjadi sasaran penggunaan pestisida dapat dibedakan menjadi beberapa jenis antara lain akarisida, algasida, bakterisida, fungsida, herbisida, insektisida, molluskisida, nematisida, ovisida, pedukulisida, piscisida, predisida, rodentisida, termisida, silvisida, dan larvasida.
Akarisida, berasal dari kata akari, yang dalam bahasa Yunani berarti tungau atau kutu. Akarisida sering juga disebut Mitesida. Fungsinya untuk membunuh tungau atau kutu. Contohnya Kelthene MF dan Trithion 4 E.
Algasida, berasal dari kata alga, bahasa latinnya berarti ganggang laut, berfungsi untuk membunuh algae. Contohnya Dimanin.
Alvisida, berasal dari kata avis, bahasa latinnya berarti burung, fungsinya sebagai pembunuh atau penolak burung. Contohnya Avitrol untuk burung kakaktua.
Bakterisida, Berasal dari katya latin bacterium, atau kata Yunani bakron, berfungsi untuk membunuh bakteri. Contohnya Agrept, Agrimycin, Bacticin, Tetracyclin, Trichlorophenol Streptomycin.
Fungsida, berasal dari kata latin fungus, atau kata Yunani spongos yang artinya jamur, berfungsi untuk membunuh jamur atau cendawan. Dapat bersifat fungitoksik (membunuh cendawan) atau fungistatik (menekan pertumbuhan cendawan). Contohnya Benlate, Dithane M-45 80P, Antracol 70 WP, Cupravit OB 21, Delsene MX 200, Dimatan 50 WP.
Herbisida, berasal dari kata lain herba, artinya tanaman setahun, berfungsi untuk membunuh gulma. Contohnya Gramoxone, Basta 200 AS, Basfapon 85 SP, Esteron 45 P.
Insektisida, berasal dari kata latin insectum, artinya potongan, keratan segmen tubuh, berfungsi untuk membunuh serangga. Contohnya Lebaycid, Lirocide 650 EC, Thiodan, Sevin, Sevidan 70 WP, Tamaron
Molluskisida, berasal dari kata Yunani molluscus, artinya berselubung tipis atau lembek, berfungsi untuk membunuh siput. Contohnya Morestan, PLP, Brestan 60.
Nematisida, berasal dari kata latin nematoda, atau bahasa Yunani nema berarti benang, berfungsi untuk membunuh nematoda. Contohnya Nemacur, Furadan, Basamid G, Temik 10 G, Vydate.
Ovisida, berasal dari kata latin ovum berarti telur, berfungsi untuk merusak telur. Pedukulisida, berasal dari kata latin pedis, berarti kutu, tuma, berfungsi untuk membunuh kutu atau tuma.
Piscisida, berasal dari kata Yunani Piscis, berarti ikan, berfungsi untuk membunuh ikan. Contohnya Sqousin untuk Cypirinidae, Chemish 5 EC. Predisida, berasal dari kata Yunani Praeda berarti pemangsa, berfungsi sebagai pembunuh predator.
Rodentisida, berasal dari kata Yunani rodere, berarti pengerat berfungsi untuk membunuh binatang pengerat. Contohnya Dipachin 110, Klerat RMB, Racumin, Ratikus RB, Ratilan, Ratak, Gisorin.
Termisida, berasal dari kata Yunani termes, artinya serangga pelubang kayu berfungsi untuk membunuh rayap. Contohnya Agrolene 26 WP, Chlordane 960 EC, Sevidol 20/20 WP, Lindamul 10 EC, Difusol CB.
Silvisida, berasal dari kata latin silva berarti hutan, berfungsi untuk membunuh pohon atau pembersih pohon, dan Larvasida, berasal dari kata Yunani lar, berfungsi membunuh ulat (larva). Contohnya Fenthion, Dipel (Thuricide).

2.2.2.    Pestisida berdasarkan cara kerjanya
Dilihat dari cara kerja pestisida tersebut dalam membunuh hama dapat dibedakan lagi menjadi tiga golongan, yaitu racun perut, racun kontak, racun gas (Soemirat, 2005):
Racun perut, Berarti mempunyai daya bunuh setelah jasad sasaran memakan pestisida. Pestisida yang termasuk golongan ini pada umumnya dipakai untuk membasmi serangga-serangga pengunyah, penjilat dan penggigit. Daya bunuhnya melalui perut. Contoh: Diazinon 60 EC.
Racun kontak, Berarti mempunyai daya bunuh setelah tubuh jasad terkena pestisida. Organisme tersebut terkena pestisida secara kontak langsung atau bersinggungan dengan residu yang terdapat di permukaan yang terkena pestisida. Contoh: Mipcin 50 WP.
Racun gas, Berarti mempunyai daya bunuh setelah jasad sasaran terkena uap atau gas. Jenis racun yang disebut juga fumigant ini digunakan terbatas pada ruangan ruangan tertutup.

2.2.3.    Menurut Dep.Kes RI Dirjen P2M dan PL 2000 dalam Diana (2009)
berdasarkan struktur kimianya pestisida dapat digolongkan menjadi golongan organochlorin, golongan organophosfat, golongan carbamat, pyretroid, fumigant,, petroleum, dan ntibiotik. Umumnya golongan ini mempunyai sifat: merupakan racun yang universal, degradasinya berlangsung sangat lambat larut dalam lemak.
Golongan organophosfat, Pestisida organophosfat misalnya diazonin dan basudin. Golongan ini mempunyai sifat-sifat sebagai berikut : merupakan racun yang tidak selektif degradasinya berlangsung lebih cepat atau kurang persisten di lingkungan, menimbulkan resisten pada berbagai serangga dan memusnahkan populasi predator dan serangga parasit, lebih toksik terhadap manusia dari pada organokhlor.
Golongan carbamat termasuk baygon, bayrusil, dan lain-lain. Golongan ini mempunyai sifat sebagai berikut : mirip dengan sifat pestisida organophosfat, tidak terakumulasi dalam sistem kehidupan, degradasi tetap cepat diturunkan dan dieliminasi namun pestisida ini aman untuk hewan, tetapi toksik yang kuat untuk tawon.
Senyawa dinitrofenol misalnya morocidho 40EC, Salah satu pernafasan dalam sel hidup melalui proses pengubahan ADP (Adenesone-5-diphosphate) dengan bantuan energi sesuai dengankebutuhan dan diperoleh dari rangkaian pengaliran elektronik potensial tinggi ke yang lebih rendah sampai dengan reaksi proton dengan oksigen dalam sel. Berperan memacu proses pernafasan sehingga energi berlebihan dari yang diperlukan akibatnya menimbulkan proses kerusakan jaringan.
Pyretroid, Salah satu insektisida tertua di dunia, merupakan campuran dari beberapa ester yang disebut pyretrin yang diekstraksi dari bunga dari genus Chrysanthemum. Jenis pyretroid yang relatif stabil terhadap sinar matahari adalah : deltametrin, permetrin, fenvalerate. Sedangkan jenis pyretroid yang sintetis yang stabil terhadap sinar matahari dan sangat beracun bagi serangga adalah : difetrin, sipermetrin, fluvalinate, siflutrin, fenpropatrin, tralometrin, sihalometrin, flusitrinate.
Fumigant, fumigant adalah senyawa atau campuran yang menghasilkan gas atau uap atau asap untuk membunuh serangga , cacing, bakteri, dan tikus. Biasanya fumigant merupakan cairan atau zat padat yang murah menguap atau menghasilkan gas yang mengandung halogen yang radikal (Cl, Br, F), misalnya chlorofikrin, ethylendibromide, naftalene, metylbromide, formaldehid, fostin.
Petroleum, Minyak bumi yang dipakai sebagai insektisida dan miksida. Minyak tanah yang juga digunakan sebagai herbisida.
Antibiotik, Misalnya senyawa kimia seperti penicillin yang dihasilkan dari mikroorganisme ini mempunyai efek sebagai bakterisida dan fungisida.

2.2.4.    Pestisida Berdasarkan Pengaruh Fisiologisnya
Menurut Yusniati (2008) dalam Diana (2009), pestisida juga diklasifikasikan berdasarkan pengaruh fisiologisnya diantaranya adalah piretroid, senyawa organofospat, senyawa organoklorin, senyawa arsenat, dan senyawa karbamat.
Senyawa Organofospat, acun ini merupakan penghambat yang kuat dari enzim cholinesterase pada syaraf. Asetyl cholin berakumulasi pada persimpangan-persimpangan syaraf (neural jungstion) yang disebabkan oleh aktivitas cholinesterase dan menghalangi penyampaian rangsangan syaraf kelenjar dan otot-otot. Golongan ini sangat toksik untuk hewan bertulang belakang.Organofosfat disintesis pertama kali di Jerman pada awal perang dunia ke-II. Bahan tersebut digunakan untuk gas syaraf sesuai dengan tujuannya sebagai insektisida. Pada awal sintesisinya diproduksi senyawa tetraethyl pyrophosphate (TEPP), parathion dan schordan yang sangat efektif sebagai insektisida tetapi juga toksik terhadap mamalia. Penelitian berkembang tersebut dan ditemukan komponen yang paten terhadap insekta tetapi kurang toksik terhadap manusia (misalnya : malathion). Organofosfat adalah insektisida yang paling toksik diantara jenis pestisida lainnya dan sering menyebabkan keracunan pada orang. Termakan hanya dalam jumlah sedikit saja dapat menyebabkan kematian, tetapi diperlukan beberapa milligram untuk dapat menyebabkan kematian pada orang dewasa. Organofosfat menghambat aksi pseudokholinesterase dalam plasma dan kholinesterase dalam sel darah merah. Organofosfat dapat terurai di lingkungan dalam waktu ± 2 minggu.
Senyawa Organoklorin. Golongan ini paling jelas pengaruh fisiologisnya seperti yang ditunjukkan pada susunan syaraf pusat, senyawa ini berakumulasi pada jaringan lemak. Secara kimia tergolong insektisida yang toksisitas relatif rendah akan tetapi mampu bertahan lama dalam lingkungan. Racun ini bersifat mengganggu susunan syaraf dan larut dalam lemak. Contoh insektisida ini pada tahun 1874 ditemukan DDT (Dikloro Difenil Tri Kloroetana) oleh Zeidler seorang sarjana kimia dari Jerman. Pada tahun 1973 diketahui bahwa DDT ini ternyata sangat membahayakan bagi kehidupan maupun lingkungan, karena meninggalkan residu yang terlalu lama dan dapat terakumulasi dalam jaringan melalui rantai makanan. DDT sangat stabil baik di air, di tanah, dalam jaringan tanaman dan hewan.
Senyawa Arsenat, pada keadaan keracunan akut ini menimbulkan gastroentritis dan diare yang menyebabkan kekejangan yang hebat sebelum menimbulkan kematian. Pada keadaan kronis menyebabkan pendarahan pada ginjal dan hati.
Senyawa Karbamat, merupakan ester asam N-metilkarbamat atau turunan dari asam karbamik HO-CO-NH2. Pengaruh fisiologis yang primer dari racun golongan karbamat adalah menghambat aktifitas enzym cholinesterase darah dengan gejala-gejala seperti senyawa organofospat, tetapi pengaruhnya jauh lebih reversible dari pada efek senyawa organofosfat.
Piretroid, piretroid merupakan senyawa kimia yang meniru struktur kimia (analog) dari piretrin. Piretrin sendiri merupakan zat kimia yang bersifat insektisida yang terdapat dalam piretrum, kumpulan senyawa yang di ekstrak dari bunga semacam krisan piretroid (bunga Chrysantheum cinerariaefolium) memiliki beberapa keunggulan, diantaranya diaplikasikan dengan takaran relatif sedikit, spektrum pengendaliannya luas, tidak persisiten, dan memiliki efek melumpuhkan yang sangat baik. Namun karena sifatnya yang kurang atau tidak selektif, banyak piretroid yang tidak cocok untuk program pengendalian hama terpadu. Insektisida tanaman lain adalah nikotin yang sangat toksik secara akut dan bekerja pada susunan saraf. Piretrum mempunyai toksisitas rendah pada manusia tetapi menimbulkan alergi pada orang yang peka.

2.3.    Jenis Formulasi Pestisida
Bentuk-bentuk formulasi pada pestisida antara lain adalah sebagai berikut:
2.3.1. Bentuk Cair
Formulasi pestisida dalam bentuk cair dapat dibedakan menjadi EC (Emulsifiable Cocentrate atau Emulsible Cocentrate), Soluble Concentrate in water (WSC) atau Water Soluble Concentrate (WSC), Aeous Solution (AS) atau Aquaous Concentrate (AC), Soluble (SL), Flowable (F), dan Ultra Low Volume (ULV).
EC (Emulsifiable Cocentrate atau Emulsible Cocentrate). Sediaan berbentuk pekatan (konsentrat) cair dengankonsentrasi bahan aktifd yang cukup tinggi. Kosentrasi ini jika dicampur dengan air akan membentuk emilsi (butiran denda cair yang melayang dalam media cair lain). EC umumnya digunakan dengan cara disemprot, meskipun dapat pula digunakan dengan cara lain.
Soluble Concentrate in water (WSC) atau Water Soluble Concentrate (WSC). Formulasi ini mirip EC, tetapi bila decamp[ur air tidsak membentuk emulsi, melainkan membentuk larutan homogen. Umumnya, sediaan ini digunakan dengan cara disemprotkan.
Aeous Solution (AS) atau Aquaous Concentrate (AC). pekatan ini diarutkan dalam air. Persisida yang diformulasi dalam bentuk AS dan AC umumnya pestisida berbentuk garam yang mempunyai kelarutan tinggi dalam air. Pestisida ini juga dighunakan dengan cara disemprot.
Soluble (SL). Pekatan cair ini jika dicampurkan air akan membentuk larutan. Pestisida ini digunakan dengan cara disemprotkan. SL juga dapat mengacu pada formulasi slurry.
Flowable (F) atau Flowabel ini Water (FW). Formulasi ini berupa konsentrasi cair yangs angat pekat. Bila dicampur air, F atau FW akan membentuk emilsi seperti halnya WP. Pada dasarnya FW adalah WP yang dibasahkan.
Ultra Low Volume (ULV). Sediaan khusus untuk penyemprotan dengan volume ultra rendah, yakni volume semprot antara 1 hingga 5 liter/hektar. ULV umumnya merupakan sdiaan siap pakai, tanpa harus dicampur dengan air.

2.3.2. Bentuk padat
Formulasi pestisida dalam bentuk padat diantaranya adalah Wettable Powder (WP), Soluble powder (S atau SP), Butiran (G), Water Dipersible Granule (WG atau WDG), Seed dreesing (SD) atau Seed Treatment (ST), Tepug Hembus atau Dust (D), dan Umpan atau bait (B) ready Mix Bait (RB atau RMB).
Wettable Powder (WP). Formulasi WP bersama EC merupakan formulasi klasik yang masih banyak digunakan dingga saat ini. WP adalah formulasi bentuk tepung yang bila dicampur air akan membentuk suspensi yang penggunaannya dengan cara disemprot.
Soluble powder (S atau SP). Formulasi bentuk tepung yang bia dicampur air akan menghasilkan larutan homogen. Pestisida ini juga digunakand enga cara disemprotkan.
Butiran (G). Butiran yang umumnya merupakan sedian siap pakai dengan konsetrasi rendah. Pestisida butiran digunakan dengan cara ditaburkan di lapagan (baik secara manual dengan tangan atau dengan mesin penabur) setelah penaburan dapat diikuti denga pegolahan tanah atai tidak. Disamping formulasi G dikenal juga fomulasi SG, yakni sand granular.
Water Dipersible Granule (WG atau WDG) . WDG atau WG berbentuk butiran, mirip G, tetapi penggunaanya sangat berbeda. Formulasi WDG harus diencerkan denga air dan digunakan dengan cara disemprotkan.
Seed dreesing (SD) atau Seed Treatment (ST). Sediaan berbentuk tepung yang khusus digunakan untuk perawatan benih. Berbeda dengan Tepung Hembus atau Dust (D). Sediaan siap pakai dengan konsentrasi rendah yang digunakan dengan cara dihembuskan. Sedangkan Umpan atau bait (B) ready Mix Bait (RB atau RMB). umpan merupakan formulasi siap pakai yang umumya digunakan untuk formulasi rodentisida.

2.4.    Cara Mengaplikasikan Pestisida
Cara mengaplikasikan pestisida bermacam-macam diantaranya adalah penyemprotan (spraying), pengabut, dusting (pengembus), penyebaran butiran, penuangan atau penyiraman (pour on), injeksi batang, impregnasi, fumigasi, dan dipping.
Penyemprotan (spraying), merupakan metode yang palingbanyak digunakan. Biasanya digunakan 100-200 literenceran insektisida per ha. Paling banyak adalah 1000liter/ha sedang paling kecil 1 liter/ha seperti dalam ULV.
Pengabut, formulasi yang digunakan hamper sama dengan penyemprotan namun biasanya digunakan low volume yang artinya volume cairan yang digunakan pada pengabut jauh lebih rendah daripada penyemprotan biasa, konsentrasinya cukup tinggi.
Dusting (pengembus), untuk hama rayapkayu kering Cryptotermes, dusting sangat efisien bila dapat mencapai koloni karena racun dapat menyebar sendiri melalui efek perilaku trofalaksis.
Penyebaran butiran, pestisida yang digunakan berbentuk granular biasanya dilakukan dengan alat penyebar dan atau alat penyebar (spreader).
Penuangan atau penyiraman (pour on) misalnya untuk membunuh sarang (koloni) semut, rayap, serangga tanahdi persemaian dsb. Injeksi batang, dengan insektisida sistemik bagi hamabatang, daun, penggerek dll.
Dipping, perendaman / pencelupan seperti untuk biji /benih, kayu. Sedangkan Fumigasi, penguapan, misalnya pada hama gudang atauhama kayu. Dan Impregnasi, merupakan metode dengan tekanan (pressure) misalnyadalam pengawetan kayu.

2.5.    Keuntungan dan Kerugian Dalam Penggunaan Pestisida
Keuntungan dengan adanya pestisida tidak hanya berperan dalam mengendalikan jasad-jasad pengganggu dalam bidang pertanian saja, namun juga diperlukan dalam bidang kehutanan terutama untuk pengawetan kayu dan hasil hutan yang lainnya, dalam bidang kesehatan dan rumah tangga untuk mengendalikan vektor (penular) penyakit manusia dan binatang pengganggu kenyamanan lingkungan, dalam bidang perumahan terutama untuk pengendalian rayap atau gangguan serangga yang lain.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa serangan hama pada tanaman cukup tinggi. Dengan menggunakan pestisida kehilangan hasil produksi pertanian bisa dikurangi. Pada tahun 1985 dunia menggunakan sekitar 2300 juta kg pesyisida kimia. Pestisida meningkat dengan pesat khususnya di Negara-negara sedang berkembang dimana pestisida dianggap suatu cara mudah untuk meningkatkan produksi, seringkali aktif dipromosikan dan disubsidi (Sastrowiyono, 1983).
Namun demikian, beberapa kerugian dan bahaya penggunaan pestisida lambat laun menjadi jelas, antaralain: dari waktu ke waktu, hama menjadi kebal terhadap pestisida, yangkemudian memaksa penggunaan pestisida dalam dosisi yang lebih tinggi. Akhirnya perlu dikembangkan pestisida jenis baru. Hal ini merupakan proses yang mahal dan lama. Kekebalan hama ini semakin berkembangcepat di daerahtropis daripada di daerah beriklim sedang karena proses biologisnya berlangsung lebih cepat pada suhu yang lebih tinggi. Pestisida bukan hanya pembunuh organisme yang menyebabkan kerusakan pada tanaman, namun juga membunuh organisme yang berguna seperti musuh alami hama. Serangan hama primer dansekunder bisa meningkat setelah pestisida membunuh musuh alamihama ; Pestisida yang tidak mudah terurai, akan terserap dalam rantai makanan dan sangat membahayakan seranggga, hewan pemakanserangga, burung pemangsa, dan pada akhirnya manusia Sukoco(1999).
Dampak tarhadap manusia apabila penggunaan pestisida tanpa diimbangi dengan perlindungan dan perawatan kesehatan, orang yang sering berhubungan dengan pestisida, secara lambat laun akan mempengaruhi kesehatannya. Pestisida meracuni manusia tidak hanya pada saat pestisida itu digunakan, tetapi juga saat mempersiapkan, atau sesudah melakukan penyemprotan.
Kecelakaan  akibat pestisida pada manusia juga merupakan kerugian yang nya pestisida, terutama dialami oleh orang yang langsung melaksanakan penyemprotan. Mereka dapat mengalami pusing-pusing ketika sedang menyemprot maupun sesudahnya, atau muntah-muntah, mulas, mata berair, kulit terasa gatal-gatal dan menjadi  luka, kejang-kejang, pingsan, bahkan kematian. Kejadian tersebut umumnya disebabkan kurangnya perhatian atas keselamatan kerja  dan kurangnya kesadaran bahwa pestisida adalah racun Sukoco(1999).
Kerugiannya pestisida berpengaruh buruk terhadap kualitas lingkungan. Masalah yang banyak diprihatinkan dalam pelaksanaan program pembangunan yang berwawasan lingkungan adalah masalah pencemaran yang diakibatkan penggunaan pestisida di bidang pertanian, kehutanan,  pemukiman, maupun di sektor kesehatan. Pencemaran pestisida terjadi karena adanya residu yang tertinggal di lingkungan fisik dan biotis disekitar kita. Dan  menyebabkan kualitas lingkungan hidup manusia semakin menurun. Tiga dampak buruk penggunaan pestisida, khususnya yang mempengaruhi peningkatan perkembangan populasi hama yaitu munculnya ketahanan  (resistensi) hama terhadap pestisida, resurgensi hama, ledakan populasi hama sekunder Sukoco(1999).
III.    BAHAN DAN METODE

3.1.    Waktu dan Tempat
Kegiatan praktikum Acara V (Mengenal Pestisida dan Aplikasinya) dilakukan dengan mengamati jenis-jenis pestisida yang telah disediakan  dan pengamatan dilaksanakan di Laboratorium Budidaya pertanian Fakultas Pertanian Universitas Palangkaraya. Kegiatan dilaksanakan pada hari senin 13 Mei 2012 jam 13.15-14.55 WIB.

3.2.    Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan adalah beberapa jenis pestisida yang digunakan untuk pengamatan. Sedangkan alat yang digunakan berupa alat tulis untuk membuat laporan sementara dan kamera minimal 2 MP untuk mengambil gambar jenis pestisida yang diamati.

3.3.    Cara Kerja
Adapun cara kerja dari praktikum ini adalah sebagai berikut :
a.    Menyiapkan bahan-bahan yang digunakan berupa beberapajenis pestisida dengan berbagai jenis formulasinya.
b.    Megidentifikasi satu persatu dari jenis pestisida yang telah digunakan itu dengan melihat nama dagang, formulasi, jenis bahan aktif, sasarannya, dan cara pengaplikasiannya.
c.    Mengcatat hasil pengamatan tersebut dan mengabil gambar jenis-jenis pestisida yang diamati.
d.    Membuat lapora sementara tentang pestisida dan cara pengaplikasiannya berupa table hasil pengamatan pestisida.



IV.    HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1.    Hasil Pengamatan
Adapun hasil pengamatan praktikum Mengenal Pestisida dan Aplikasinya adalah sebagai berikut :
Tabel 1. Hasil Pengamatan Mengenal Pestisida dan Aplikasinya
No    Nama Bahan    Golongan    Nama Umum Bahan Aktif    Formulasi    OPT Sasaran    Cara Aplikasi
1    Agrept    Bakterisida    Streptomisin
20 %    Wettable Powder (WP)    Bakteri
(P Solanacearum)    Disemprotkan
2    Mesophide
80 P    Rodentisida    Seng Fosfida
80 %    Powder (P)    Rodentia (Tikus)    Dicampurkan dengan umpan
3    Basamid-G    Nematisida, Insektisida, dan Fungisida    Dazomet 98 %    Granular (G)    Ulat tanah, Nematoda    Ditaburkan, dan disebar
4    Fujiwan    Fungisida    Isoprothiolane 400 gram    Emulsitiable Concentrate (EC)    Jamur/ Cendawan    Disemprotkan
5    Bancol 150 WP    Insektisida    Bensultap 50 %    Wettable Powder (WP)    Penggerek Batang    Disemprotkan
6    Ridomil 35 SD    Fungisida    Metalaksil 35 %    Solution (S)    Penyakit Bulai    Dicampurkan dengan umpan
7    Dithane    Fungisida    Mankonzen 430 gram    Fumigant (F)    Jamur/ Cendawan    Disemprotkan
8    Dharmabas
500 EC    Insektisida    BPMC 500 gram/L    Emulsitiable Concentrate (EC)    Wereng Coklat    Disemprotkan
9    Indovin 85 SP    Insektisida    Karbaril 85 %    Soluble Powder (SP)    Ulat Grayak    Disemprotkan
10    Benlate    Fungisida    Benomil 50 %    Wettable Powder (WP)    Busuk Ubi (Fusarium spp)    Disemprotkan
11    Antracol 70 WP    Fungisida    Propineb 70 %    Wettable Powder (WP)    Alternaria, Bercak Ungu    Disemprotkan
12    Petrokum RMB    Rodentisida    Brodifakum 0,005 %    Umpan (RMB)    Rodentia (Tikus)    Dicampurkan dengan umpan
13    Klerat    Rodentisida    Brodifakum 0,005 %    Umpan (RMB)    Rodentia (Tikus)    Dicampurkan dengan umpan
14    Rambo 480 AS    Herbisida    Gliphosphate 480 gram/L    Aeous Solution (AS)    Gulma    Disemprotkan

4.2.    Pembahasan
4.2.1.    Agrept

Gambar 1. Bakterisida Agrept

Pestisida ini memiliki nama dagang Agrept. Pestisida ini termasuk kedalam golongan bakterisida dengan nama umum bahan aktif yaitu Streptomisin 20 %. Jenis formulasinya adalah Wettable Powder (WP), dengan OPT sasaran beberapa jenis bekteri terutama Bakteri Pseudomonas solanacearum. Untuk cara cara aplikasi pestisida jenis ini, Agrept diaplikasikan dengan cara disemprotkan pada bagian terserang.

4.2.2.    Mesophide 80 P

Gambar 2. RodentisidaMesophide 80 P
Pestisida ini memiliki nama dagang Mesophide 80 P. Pestisida ini termasuk kedalam golongan rodentisida dengan nama umum bahan aktif yaitu Seng Fosfida 80 %. Jenis formulasinya adalah Granular (G), dengan OPT sasaran beberapa jenis hewan pengerat terutama rodentia (tikus). Untuk cara cara aplikasi pestisida jenis ini, mesophide 80 P diaplikasikan dengan cara dicampurkan dengan umpan.

4.2.3.    Basamid-G

Gambar 3. Pestisida Basamid-G

Pestisida ini memiliki nama dagang Basamid-G. Pestisida ini termasuk kedalam golongan nematisida, insektisida, dan fungisida dengan nama umum bahan aktif yaitu Dazomet 98 %. Jenis formulasinya adalah Wettable Powder (WP), dengan OPT sasaran beberapa jenis nematoda terutama ulat tanah. Untuk cara cara aplikasi pestisida jenis basamid-G ini diaplikasikan dengan cara ditaburkan, dan juga disebar di sekitar tanaman yang terserang pada bagian terserang.
4.2.4.    Fujiwan

Gambar 4. Fungisida Fujiwan

Pestisida ini memiliki nama dagang Fujiwan. Pestisida ini termasuk kedalam golongan Fungisida dengan nama umum bahan aktif yaitu Isoprothiolane 400 gram. Jenis formulasinya adalah Emulsitiable Concentrate (EC), dengan OPT sasaran beberapa jenis jamur/ cendawan pada tanaman. Untuk cara cara aplikasi pestisida jenis Fujiwan ini diaplikasikan dengan cara disemprotkan pada bagian terserang.

4.2.5.    Bancol 150 WP

Gambar 5. Insektisida Bancol 150 WP
Pestisida ini memiliki nama dagang Bancol 150 WP. Pestisida ini termasuk kedalam golongan insektisida dengan nama umum bahan aktif yaitu Bensultap 50 %. Jenis formulasinya adalah Wettable Powder (WP), dengan OPT sasaran beberapa jenis hama penggerek terutama penggerek batang. Untuk cara cara aplikasi pestisida jenis ini, bancol 150 WP diaplikasikan dengan cara disemprotkan pada bagian terserang.

4.2.6.    Ridomil 35 SD

Gambar 6. Fungisida Ridomil 35 SD

Pestisida ini memiliki nama dagang Ridomil 35 SD. Pestisida ini termasuk kedalam golongan fungisida dengan nama umum bahan aktif yaitu Metalaksil 35 20 %. Jenis formulasinya adalah Solution (S), dengan OPT sasaran beberapa jenis jamur/cendawan terutama jamur/cendawan yang menyebabkan penyakit bulai. Untuk cara cara aplikasi pestisida jenis ini, ridomil 35 SD diaplikasikan dengan cara disemprotkan pada tanaman.
4.2.7.    Dithane

Gambar 7. Fungisida Dithane

Pestisida ini memiliki nama dagang Dithane. Pestisida ini termasuk kedalam golongan Fungisida dengan nama umum bahan aktif yaitu Mankonzen 430 gram. Jenis formulasinya adalah Fumigant (F), dengan OPT sasaran beberapa jenis jamur/ cendawan. Untuk cara cara aplikasi pestisida jenis ini, dithane diaplikasikan dengan cara disemprotkan pada tanaman.

4.2.8.    Dharmabas 500 EC

Gambar 8. Dharmabas 500 EC
Pestisida ini memiliki nama dagang Dharmabas 500 EC. Pestisida ini termasuk kedalam golongan Insektisida dengan nama umum bahan aktif yaitu BPMC 500 gram/L. Jenis formulasinya adalah Emulsitiable Concentrate (EC), dengan OPT sasaran beberapa jenis serangga yang menyerang tanaman terutama wereng coklat. Untuk cara cara aplikasi pestisida jenis ini, dharmabas 500 EC diaplikasikan dengan cara disemprotkan pada tanaman.

4.2.9.    Indovin 85 SP

Gambar 9. Insektisida Indovin 85 SP

Pestisida ini memiliki nama dagang Indovin 85 SP. Pestisida ini termasuk kedalam golongan insektisida dengan nama umum bahan aktif yaitu Karbaril 85 %. Jenis formulasinya adalah Soluble Powder (SP), dengan OPT sasaran beberapa jenis serangga yang menyerang tanaman terutama hama serangga ulat grayak. Untuk cara cara aplikasi pestisida jenis ini Indovin 85 SP diaplikasikan dengan cara disemprotkan pada bagian terserang dan areal tanam.
4.2.10.    Benlate

    Gambar 10. Bakterisida Agrept

Pestisida ini memiliki nama dagang Benlate. Pestisida ini termasuk kedalam golongan fungisida dengan nama umum bahan aktif yaitu Benomil 50 %. Jenis formulasinya adalah Wettable Powder (WP), dengan OPT sasaran beberapa jenis jamur/cendawan yang menyerang umbi-umbian terutama pada cendawan yang menyebabkan penyakit busuk ubi (Fusarium spp). Untuk cara cara aplikasi pestisida jenis ini, benlate diaplikasikan dengan cara disemprotkan pada areal pertanaman yang terserang.

4.2.11.    Antracol 70 WP.

Gambar 11. Fungisida Antracol 70 WP
Pestisida ini memiliki nama dagang Antracol 70 WP. Pestisida ini termasuk kedalam golongan Fungisida dengan nama umum bahan aktif yaitu Propineb 70 %. Jenis formulasinya adalah Wettable Powder (WP), dengan OPT sasaran beberapa jenis jamur/cendawan terutama Alternaria pada penyakit bercak ungu. Untuk cara cara aplikasi pestisida jenis ini, Antracol 70 WP diaplikasikan dengan cara disemprotkan pada areal petanaman yang terserang.

4.2.12.    Petrokum RMB

Gambar 12. Rodentisida Petrokum RMB

Pestisida ini memiliki nama dagang Petrokum RMB. Pestisida ini termasuk kedalam golongan rodentisida dengan nama umum bahan aktif yaitu Brodifakum 0,005 %. Jenis formulasinya adalah Umpan (RMB), dengan OPT sasaran beberapa jenis binatang pengerat terutama rodentia (tikus). Untuk cara cara aplikasi pestisida jenis Petrokum RMB ini diaplikasikan dengan cara Dicampurkan dengan umpan.
4.2.13.    Klerat.

Gambar 13. Rodentisida Klerat

Pestisida ini memiliki nama dagang Klerat. Pestisida ini termasuk kedalam golongan rodentisida dengan nama umum bahan aktif yaitu Brodifakum 0,005 %. Jenis formulasinya adalah Umpan (RMB), dengan OPT sasaran beberapa jenis binatang pengerat terutama rodentia (tikus). Untuk cara cara aplikasi pestisida jenis Petrokum RMB ini diaplikasikan dengan cara Dicampurkan dengan umpan.
4.2.14.    Rambo 480 AS

Gambar 14. Herbisida Rambo 480 AS

Pestisida ini memiliki nama dagang Rambo 480 AS. Pestisida ini termasuk kedalam golongan herbisida dengan nama umum bahan aktif yaitu Gliphosphate 480 gram/L. Jenis formulasinya adalah Aeous Solution (AS), dengan OPT sasaran beberapa jenis gulma yang tumbuh disekitar areal pertanaman. Untuk cara cara aplikasi pestisida jenis ini, Rambo 480 AS diaplikasikan dengan cara disemprotkan pada gulma-gulma merugikan disekitar areal pertanaman.

V.    KESIMPULAN DAN SARAN

5.1.     Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat ditarik darihasil praktikum ini adalah Pestisida secara umum diartikan sebagai bahan kimia beracun yang digunakan untuk mengendalikan  jasad penganggu yang merugikan kepentingan manusia terutama di bidang pertanian. Pestisida merupakan racun yang memiliki kemampuan membasmi organisme selektif  dan mempunyai nilai ekonomis terutama bagi petani.
Jenis pestisida menurut jasad sasaran dapat dibedakan menjadi akarisida, algasida, bakterisida, fungsida, herbisida, insektisida, molluskisida, nematisida, ovisida, pedukulisida, piscisida, predisida, rodentisida, termisida, silvisida, dan larvasida. Berdasarkan cara kerjanya pestisida digolongkan menjadi, racun perut, racun kontak, racun gas. Berdasarkan struktur kimianya pestisida dapat digolongkan menjadi golongan organochlorin, golongan organophosfat, golongan carbamat, pyretroid, fumigant,, petroleum, dan ntibiotik. Berdasarkan pengaruh fisiologisnya pestisida dapat digolongkan menjadi piretroid, senyawa organofospat, senyawa organoklorin, senyawa arsenat, dan senyawa karbamat.
Cara mengaplikasikan pestisida bermacam-macam diantaranya adalah  penyemprotan (spraying), pengabut, dusting (pengembus), penyebaran butiran, penuangan atau penyiraman (pour on), injeksi batang, impregnasi, fumigasi, dan dipping.
Bentuk-bentuk formulasi pada pestisida dibedakan menjadi bentuk cair dan padat. Formulasi pestisida bentuk cair diantaranya adalah EC (Emulsifiable Cocentrate atau Emulsible Cocentrate), Soluble Concentrate in water (WSC) atau Water Soluble Concentrate (WSC), Aeous Solution (AS) atau Aquaous Concentrate (AC), Soluble (SL), Flowable (F), dan Ultra Low Volume (ULV). Sedangkan Formulasi pestisida dalam bentuk padat diantaranya adalah Wettable Powder (WP), Soluble powder (S atau SP), Butiran (G), Water Dipersible Granule (WG atau WDG), Seed dreesing (SD) atau Seed Treatment (ST), Tepug Hembus atau Dust (D), dan Umpan atau bait (B) ready Mix Bait (RB atau RMB).

5.2.     Saran
Adapun saran yang dapat disampaikan berkaitan dengan diadakannya praktikum ini adalah agar pada pertanian di indonesia mulai melihat gejala dan tanda serta cara penyebaran dan siklus hama dan penyakit yang menyerang tanaman yang disebabkan oleh berbagai jenis hama seperti serangga, nematode, bangsa pengerat, dan berbagai jenis penyakit yang disebabkan oleh bakteri, jamur/cendawan  dengan berbagai kerugian yang ditimbulkan hendaknya pemerintah Indonesia ikut turut campur tangan dalam membantu petani untuk menangani kasus hama dan penyakit ini khususnya melalui bantuan berbagai jenis pestisida dengan menilai keuntungan dan kerugiannya serta dampak yang ditimbulkan harus seminimal mungkin dengan adanya pestisida ini.



DAFTAR PUSTAKA


Kusno S , 1992.Pencegahan pencemaran pupuk dan pestida. Jakarta : Penerbit Swadaya.

Ekha Isuasta, 1988. Dilema pestisida . Yogyakarta : Kanisius .

Hidayat Natawigena dan G. Satari. 1981. Kecenderungan Penggunaan Pupuk dan Pestisida dalam Intensifikasi Pertanian dan Dampak Potensialnya Terhadap Lingkungan. Seminar terbatas  19 Maret 1981. Ekologi Unpad Bandung.

Kenmore, P.E. 1987. IPM Means the Best Mix. Rice IPM Newsletter. VII (7). IRRI. Manila. Philippines.

Benn, F.R [ and ]C.A. Mac Auliffe, 1975. Chemistry and pollution. New York : The Mac Millan Press.

Mulyani, S. dan M. Sumatera. 1982. Masalah Residu Pestisida pada Produk Hortikultura. Simposium Entomologi, Bandung 25 – 27 September 1982.

Oka, Ida Nyoman. 1995. Pengendalian Hama Terpadu dan Implementasinya di Indonesia. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

Untung, K. 1984. Pengantar Analisis Ekonomi Pengendalian Hama Terpadu. Andi Offset. Yogyakarta.

DASPERLINTAN "Mengenal Ordo Serangga Hama" Stefanuseko

I.    PENDAHULUAN

1.1.    Latar Belakang
Dalam dunia pertanian khususnya di Indonesia kita mengenal beberapa aspek yang menentukan keberhasilan suatu usaha budidaya pertanian salah satu dari aspek tersebut adalah bagaimana cara menjaga baiknya pertumbuhan tanaman dengan mengendalikan hama dan penyakit yang akan mengganggu dan menyerang pertumbuhan dan perkembangan tanaman baik tanaman perkebunan ataupun tanaman hortikultura yang dapat mengakibatkan menurunnya mutu hasil produksi dari sebagian kualitas dan kwantitas hasil (Hartati, 2009).
Selain penyakit kita juga tidak jarang menjumpai hal-hal yang dapat merusak tanaman seperti hama tanaman. Hama dapat berkembang menjadikan tanaman yang kita tanam sebagai inangnya. Oleh karena itu kita harus mengendalikan hama tersebut. Untuk mengendalikannya pertama-tama kita harus mengenali hama yang menyerang tanaman kemudian mencari cara untuk mengendalikannya sehingga pada periode tanaman berikutnya hama tersebut tidak lagi menyerang, minimal mengurangi intensitas serangan hama yang sama. Contoh dari serangan hama yang merugikan adalah serangan dari hama ordo Orthoptera yaitu belalang (Valanga rigricornis) yang dapat menyerang tanaman sayur seperti sawi.
Dalam hal pengendalian hama tanaman sangat penting mengenali jenis hama yang menyerang. karena dengan mengenali hama tersebut dapat diketahui apa yang seharusnya diperbuat untuk mencegah kerugian yang lebih parah. Untuk itu seiring dengan perkembangan jaman telah muncul berbagai macam cara pencegahan hama yang sesuai dengan setiap jenis hama yang menyerang tanaman. Tetapi kemajuan teknologi itu tidak dapat dinikmati oleh setiap kalangan sehingga sampai sekarang masih bisa kita lihat pengendalian hama dengan cara lama dan dengan hasil yang kurang optimal pula. Seperti adanya pestisida fungi untuk pengendalian jamu, insektisida untuk mengendalikan serangga, rodentisida untuk mengendalikan tikus, dan masih banyak yang lainnya (Hartati, 2009).
Dalam pertanian, hama adalah organisme pengganggu tanaman yang menimbulkan kerusakan secara fisik, dan ke dalamnya praktis adalah semua hewan yang menyebabkan kerugian dalam pertanian.
Hama pada tanaman merupakan momok dalam budidaya tanaman meningkatkan hasil produksi. Penanggulangan hama dan penyakit yang tepat dan meminimalkan dampak negatif terhadap erorganisme-organisme biotik sebagai musuh alami menjadi prioritas penting dalam pengendalian.
Dampak yang timbul akibat serangan hama menyebabkan kerugian baik terhadap nilai ekonomi produksi, pertumbuhan dan perkembangan tanaman, serta petani sebagai pelaku budiaya tanaman dengan kegagalan panen serta turunnya kwalitas dan kuantitas hasil panen. Pengendalian hama yang tidak sesuai dan tepat akan memberikan dampak kerugian yang lebih besar dari pada serangan hama itu sendiri terhadap tanaman.( Hartati, 2009).
Adapun manfaat dalam mempelajari hama tanaman khususnya ke enam ordo serangga hama adalah agar praktikan dapat mengenal serangga hama, jenis mulut, daur hidup, tipe perkembangbiakan dan siklus penyerangannya sehingga dapat diketahui cara yang tepat untuk pengendalian serangga hama tersebut.

1.2.    Tujuan
a.    Untuk mengetahui perbedaan ke enam ordo serangga tersebut.
b.    Untuk mengetahui lebih jelas perbedaan masing-masing bagian tubuh serangga (kepala, dada, sayap, perut, dan kaki) sehingga memudahkan pengklasifikasian/identifikasi keenam serangga hama tersebut.



II.    TINJAUAN PUSTAKA
   
2.1.    Deskripsi Serangga Hama
 Hama adalah organisme yang dianggap merugikan dan tak diinginkan dalam kegiatan sehari-hari manusia. Walaupun dapat digunakan untuk semua organisme, dalam praktek istilah ini paling sering dipakai hanya kepada hewan. Suatu hewan juga dapat disebut hama jika menyebabkan kerusakan pada ekosistem alami atau menjadi agen penyebaran penyakit dalam habitat manusia.
Serangga merupakan kelompok hewan yang dominan di muka bumi dengan jumlah spesies hampir 80 persen dari jumlah total hewan di bumi. Dari 751.000 spesies golongan serangga, sekitar 250.000 spesies terdapat di Indonesia. Serangga di bidang pertanian banyak dikenal sebagai hama (Kalshoven 1981). Sebagian bersifat sebagai predator, parasitoid, atau musuh alami (Christian & Gotisberger 2000).
Hama terdapat dalam berbagai jenis, salah satunya yaitu hama serangga. Serangga (disebut pula Insecta, dibaca "insekta") adalah kelompok utama dari hewan beruas (Arthropoda) yang bertungkai enam (tiga pasang); karena itulah mereka disebut pula Hexapoda (dari bahasa Yunani, berarti "berkaki enam").
 Secara morfologi Arthropoda dicirikan dengan badan yang beruas biasanya mencapai lebih dari 21 ruas, yang tiap ruasnya mempunyai sepasang anggota badan (appendages) namun sepasang anggota badan ini ada yang mereduksi atau berubah bentuk dan fungsi sesuai dengan kebutuhan masing-masing kelompok. Ciri penting lain adalah kelompok arthropoda tidak memunyai struktur tulang di dalam tubuhnya. Arthropoda mempunyai struktur dinding badan keras yang menutupi tubuh bagian luar untuk melindungi bagian dalam tubuh yang biasanya disebut eksosekeleton. Bagian paling luar mempunyai struktur yang paling keras dan diperkuat oleh khitin. Meskipun keras namun strukutur ini masih memungkinkan pergerakan di tiap ruas.

2.2.    Golongan Serangga Hama
Memahami pengetahuan morfologi serangga tersebut sangatlah penting, karena anggota serangga pada tiap-tiap ordo biasanya memiliki sifat morfologi yang khas yang secara sederhana dapat digunakan untuk mengenali atau menentukan kelompok serangga tersebut. Sifat morfologi tersebut juga menyangkut morfologi serangga stadia muda, karena bentuk-bentuk serangga muda tersebut juga memiliki ciri yang khas yang juga dapat digunakan dalam identifikasi. (Rioardi, 2009).
Serangga (Insecta) dibagi menjadi 2 subkelas:
•    Apterygota (Tidak bersayap)
•    Pterygota (Bersayap)
Untuk penggolongan ordo serangga yang berpotensi menjadi hama ordo-ordo ini terbagi menjadi enam golongan yaitu :
2.2.1.     Ordo Orthoptera (bangsa belalang)
Sebagian anggotanya dikenal sebagai pemakan tumbuhan, namun ada beberapa di antaranya yang bertindak sebagai predator pada serangga lain. Anggota dari ordo ini umumnya memiliki sayap dua pasang. Sayap depan lebih sempit daripada sayap belakang dengan vena-vena menebal/mengeras dan disebut tegmina . Sayap belakang membranus dan melebar dengan vena-vena yang teratur. Pada waktu istirahat sayap belakang melipat di bawah sayap depan.
Alat-alat tambahan lain pada caput antara lain : dua buah (sepasang) mata facet, sepasang antene, serta tiga buah mata sederhana (occeli). Dua pasang sayap serta tiga pasang kaki terdapat pada thorax. Pada segmen (ruas) pertama abdomen terdapat suatu membran alat pendengar yang disebut tympanum . Spiralukum yang merupakan alat pernafasan luar terdapat pada tiap-tiap segmen abdomen maupun thorax. Anus dan alat genetalia luar dijumpai pada ujung abdomen (segmen terakhir abdomen).
Metamorfose sederhana (paurometabola) dengan perkembangan melalui tiga stadia yaitu telur - nimfa - dewasa (imago). Bentuk nimfa dan dewasa terutama dibedakan pada bentuk dan ukuran sayap serta ukuran tubuhnya. Beberapa jenis serangga anggota ordo Orthoptera ini adalah : Kecoa ( Periplaneta sp.) Belalang sembah/mantis ( Otomantis sp.) Belalang kayu ( Valanga nigricornis Drum.)

2.2.2.    Ordo Orthoptera (bangsa belalang)
Sebagian anggotanya dikenal sebagai pemakan tumbuhan, namun ada beberapa di antaranya yang bertindak sebagai predator pada serangga lain. Anggota dari ordo ini umumnya memiliki sayap dua pasang. Sayap depan lebih sempit daripada sayap belakang dengan vena-vena menebal/mengeras dan disebut tegmina . Sayap belakang membranus dan melebar dengan vena-vena yang teratur. Pada waktu istirahat sayap belakang melipat di bawah sayap depan.
Alat-alat tambahan lain pada caput antara lain : dua buah (sepasang) mata facet, sepasang antene, serta tiga buah mata sederhana (occeli). Dua pasang sayap serta tiga pasang kaki terdapat pada thorax. Pada segmen (ruas) pertama abdomen terdapat suatu membran alat pendengar yang disebut tympanum . Spiralukum yang merupakan alat pernafasan luar terdapat pada tiap-tiap segmen abdomen maupun thorax. Anus dan alat genetalia luar dijumpai pada ujung abdomen (segmen terakhir abdomen).
Metamorfose sederhana (paurometabola) dengan perkembangan melalui tiga stadia yaitu telur - nimfa - dewasa (imago). Bentuk nimfa dan dewasa terutama dibedakan pada bentuk dan ukuran sayap serta ukuran tubuhnya. Beberapa jenis serangga anggota ordo Orthoptera ini adalah : Kecoa ( Periplaneta sp.) Belalang sembah/mantis ( Otomantis sp.) Belalang kayu ( Valanga nigricornis Drum.)


2.2.3.    Ordo Hemiptera (bangsa kepik) / kepinding
Ordo ini memiliki anggota yang sangat besar serta sebagian besar anggotanya bertindak sebagai pemakan tumbuhan (baik nimfa maupun imago). Namun beberapa di antaranya ada yang bersifat predator yang mingisap cairan tubuh serangga lain. Umumnya memiliki sayap dua pasang (beberapa spesies ada yang tidak bersayap). Sayap depan menebal pada bagian pangkal ( basal ) dan pada bagian ujung membranus. Bentuk sayap tersebut disebut Hemelytra . Sayap belakang membranus dan sedikit lebih pendek daripada sayap depan.
Pada bagian kepala dijumpai adanya sepasang antene, mata facet dan occeli. Tipe alat mulut pencucuk pengisap yang terdiri atas moncong (rostum) dan dilengkapi dengan alat pencucuk dan pengisap berupa stylet. Pada ordo Hemiptera, rostum tersebut muncul pada bagian anterior kepala (bagian ujung). Rostum tersebut beruas-ruas memanjang yang membungkus stylet. Pada alat mulut ini terbentuk dua saluran, yakni saluran makanan dan saluran ludah.
Metamorfose bertipe sederhana (paurometabola) yang dalam perkembangannya melalui stadia : telur - nimfa - dewasa. Bentuk nimfa memiliki sayap yang belum sempurna dan ukuran tubuh lebih kecil dari dewasanya. Beberapa contoh serangga anggota ordo Hemiptera ini adalah Walang sangit ( Leptorixa oratorius Thumb.) Kepik hijau ( Nezara viridula L) Bapak pucung ( Dysdercus cingulatus F)

2.2.4.    Ordo Homoptera (wereng, dan kutu)
Anggota ordo Homoptera memiliki morfologi yang mirip dengan ordo Hemiptera. Perbedaan pokok antara keduanya antara lain terletak pada morfologi sayap depan dan tempat pemunculan rostumnya. Sayap depan anggota ordo Homoptera memiliki tekstur yang homogen, bisa keras semua atau membranus semua, sedang sayap belakang bersifat membranus.
 Alat mulut juga bertipe pencucuk pengisap dan rostumnya muncul dari bagian posterior kepala. Alat-alat tambahan baik pada kepala maupun thorax umumnya sama dengan anggota Hemiptera. Tipe metamorfose sederhana (paurometabola) yang perkembangannya melalui stadia : telur - nimfa - dewasa. Baik nimfa maupun dewasa umumnya dapat bertindak sebagai hama tanaman. Serangga anggota ordo Homoptera ini meliputi kelompok wereng dan kutu-kutuan, seperti : Wereng coklat ( Nilaparvata lugens Stal.) Kutu putih daun kelapa ( Aleurodicus destructor Mask.) Kutu loncat lamtoro ( Heteropsylla sp.).

2.2.5.    Ordo Coleoptera (bangsa kumbang)
Anggota-anggotanya ada yang bertindak sebagai hama tanaman, namun ada juga yang bertindak sebagai predator (pemangsa) bagi serangga lain. Sayap terdiri dari dua pasang. Sayap depan mengeras dan menebal serta tidak memiliki vena sayap dan disebut elytra. Apabila istirahat, elytra seolah-olah terbagi menjadi dua (terbelah tepat di tengah-tengah bagian dorsal). Sayap belakang membranus dan jika sedang istirahat melipat di bawah sayap depan. Alat mulut bertipe penggigit-pengunyah , umumnya mandibula berkembang dengan baik.
 Pada beberapa jenis, khususnya dari suku Curculionidae alat mulutnya terbentuk pada moncong yang terbentuk di depan kepala. Metamorfose bertipe sempurna (holometabola) yang perkembangannya melalui stadia : telur - larva - kepompong (pupa) - dewasa (imago). Larva umumnya memiliki kaki thoracal (tipe oligopoda), namun ada beberapa yang tidak berkaki (apoda). Kepompong tidak memerlukan pakan dari luar (istirahat) dan bertipe bebas/libera. Beberapa contoh anggotanya adalah : Kumbang badak ( Oryctes rhinoceros L) Kumbang janur kelapa ( Brontispa longissima Gestr) Kumbang buas (predator) Coccinella sp.

2.2.6.     Ordo Lepidoptera (bangsa kupu/ngengat)
 Dari ordo ini, hanya stadium larva (ulat) saja yang berpotensi sebagai hama, namun beberapa diantaranya ada yang predator. Serangga dewasa umumnya sebagai pemakan/pengisap madu atau nektar. Sayap terdiri dari dua pasang, membranus dan tertutup oleh sisik-sisik yang berwarna-warni. Pada kepala dijumpai adanya alat mulut seranga bertipe pengisap , sedang larvanya memiliki tipe penggigit .
Metamorfose bertipe sempurna (Holometabola) yang perkembangannya melalui stadia : telur – larva - kepompong - dewasa. Larva bertipe polipoda , memiliki baik kaki thoracal maupun abdominal, sedang pupanya bertipe obtekta. Beberapa jenisnya antara lain : Penggerek batang padi kuning ( Tryporiza incertulas Wlk) Kupu gajah ( Attacus atlas L) Ulat grayak pada tembakau ( Spodoptera litura).

2.2.7.     Ordo Diptera (bangsa lalat, nyamuk)
Serangga anggota ordo Diptera meliputi serangga pemakan tumbuhan, pengisap darah, predator dan parasitoid. Serangga dewasa hanya memiliki satu pasang sayap di depan, sedang sayap belakang mereduksi menjadi alat keseimbangan berbentuk gada dan disebut halter . Pada kepalanya juga dijumpai adanya antene dan mata facet.
Metamorfosenya sempurna (holometabola) yang perkembangannya melalui stadia : telur - larva - kepompong - dewasa. Larva tidak berkaki (apoda biasanya hidup di sampah atau sebagai pemakan daging, namun ada pula yang bertindak sebagai hama, parasitoid dan predator. Pupa bertipe coartacta. Beberapa contoh anggotanya adalah : lalat buah ( Dacus spp.) lalat predator pada Aphis ( Asarcina aegrota F) lalat rumah ( Musca domestica Linn.) lalat parasitoid ( Diatraeophaga striatalis ). Ordo Hemiptera (bangsa kepik) / kepinding
Ordo ini memiliki anggota yang sangat besar serta sebagian besar anggotanya bertindak sebagai pemakan tumbuhan (baik nimfa maupun imago). Namun beberapa di antaranya ada yang bersifat predator yang mingisap cairan tubuh serangga lain. Umumnya memiliki sayap dua pasang (beberapa spesies ada yang tidak bersayap). Sayap depan menebal pada bagian pangkal ( basal ) dan pada bagian ujung membranus. Bentuk sayap tersebut disebut Hemelytra . Sayap belakang membranus dan sedikit lebih pendek daripada sayap depan.
Pada bagian kepala dijumpai adanya sepasang antene, mata facet dan occeli. Tipe alat mulut pencucuk pengisap yang terdiri atas moncong (rostum) dan dilengkapi dengan alat pencucuk dan pengisap berupa stylet. Pada ordo Hemiptera, rostum tersebut muncul pada bagian anterior kepala (bagian ujung). Rostum tersebut beruas-ruas memanjang yang membungkus stylet. Pada alat mulut ini terbentuk dua saluran, yakni saluran makanan dan saluran ludah.
Metamorfose bertipe sederhana (paurometabola) yang dalam perkembangannya melalui stadia : telur - nimfa - dewasa. Bentuk nimfa memiliki sayap yang belum sempurna dan ukuran tubuh lebih kecil dari dewasanya. Beberapa contoh serangga anggota ordo Hemiptera ini adalah Walang sangit ( Leptorixa oratorius Thumb.) Kepik hijau ( Nezara viridula L).

2.3.    Tipe-tipe Perkembangan Hidup Serangga Hama
Serangga dalam perkembangannya menuju dewasa mengalami metamorfosis. Metamorfosis adalah perubahan bentuk serangga mulai dari larva sampai dewasa. Adapula serangga yang selama hidupnya tidak pernah mengalami metamorfosis, misal kutu buku (Episma saccharina). Berdasarkan metamorfisnya, serangga dibedakan atas dua kelompok, yaitu: Paurometabola dan Holometabola (Rioardi, 2009).
a.    Paurometabola
Hemitabola/Paurometabola yaitu serangga yang mengalami metamorfosis tidak sempurna. Dalam daur hidupnya Paurometabola serangga mengalami tahapan perkembangan sebagai berikut:
•    Telur
•    Nimfa, ialah serangga muda yang mempunyai sifat dan bentuk sama dengan dewasanya. Difase ini serangga muda mengalami pergantian kulit.
•    Imago (dewasa), ialah fase yang ditandai telah berkembangnya semua organ tubuh dengan baik, termasuk alat perkembangbiakan serta sayapnya.

b.    Holometabola
Holometabola yaitu serangga yang mengalami metamorfosis sempurna. Tahapan dari daur serangga yang mengalami metamorfosis sempurna adalah telur – larva – pupa – imago. Larva adalah hewan muda yang bentuk dan sifatnya berbeda dengan dewasa. Pupa adalah kepompong dimana pada saat itu serangga tidak melakukan kegiatan, pada saat itu pula terjadi penyempurnaan dan pembentukan organ. Imago adalah fase dewasa atau fase perkembangbiakan.

2.4.    Pengendalian Serangga Hama
Pengendalian hama tanaman merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan dalam suatu usaha tani. Sesuai dengan tuntutan zaman, strategi dan tehnik pengendalian hama harus memenuhi syarat yang ada hubungannya dengan keamanan lingkungan dan keefektifitannya yang lestari tanpa efek samping yang membuat masalah perlindungan tanaman itu lebih kompleks.
Adapun cara pengendalian serangga hama yang tepat gar tidak merusak rantai makanan atau ekosistem adalah pengendalian hama secara terpadu (PHT). Pengendalian hama dapat dilakukan secara alami yaitu dengan memanfaatkan musuh alami atau yang lebih sering disebut dengan predator, rotasi dan pergiliran tanaman, penanaman varietas resisten, penanaman tanaman yang tidak disukai hama atau tanaman pagar, pengendalian secara fisik secara langsung ataupun dengan jebakan, pengendalian secara hayati dengan bahan buatan dari faktor hayati, dan pengendalian secara kimia yang teratur dan sesuai prosedur (Rioardi, 2009).
III.    BAHAN DAN METODE

3.1.    Waktu dan Tempat
Kegiatan praktikum Acara I (Mengenal Gejala Penyakit Tumbuhan) dilakukan dengan pengambilan sampel tanaman sakit dan bagian yang bergejala dari lapangan  dan pengamatan dilaksanakan di Laboratorium Budidaya pertanian Fakultas Pertanian Unpar. Kegiatan dilaksanakan pada hari senin 14 April 2012 jam 13.15-14.55 WIB.

3.2.    Bahan dan Alat
Adapun bahan yang digunakan adalah spesimen serangga hama (ordo orthoptera, hemiptera, homoptera, lepidoptera, diptera, dan coleoptera), alkohol. Sedangkan alat yang digunakan adalah toples, botol, cawan petri,pinset, dan lup.

3.3.    Cara Kerja
Adapun cara kerja dari praktikum ini adalah sebagai berikut :
a.    Membuat hasil pengamatan dalam bentuk gambar dari masing-masing ordo serangga hama, yang digambar adalah :
•    Bentuk serangga secara keseluruhan
•    Per masing-masing bagian, yaitu sayap depan, sayap belakang, kepala (caput), dada (thorax), perut (abdomen), dan kaki.
•    Melakukan pengklasifikasian (genus, spesies, ordo dan familia)
•    Membuat resume singkat meliputi : gejala serangan, tanaman yang diserang, dan biologi serangga tersebut dan dicantumkan dalam laporan.
b.    Menggambar hasil pengamatan (per kelompok) dibuat sebagian laporan sementara yang ditandatangani oleh asisten yang bertugas.



IV.    HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.    Hasil Pengamatan
Dari Hasil Pengamatan Hama Penyakit (makroskopis) dan mikroskopis disajikan pada Tabel I berikut.
Tabel 1. Hasil Pengamatan Ordo Serangga Hama
NO    Nama Serangga    Ordo Serangga    Tipe Perkembangan    Tipe Alat Mulut    Bagian tanaman yang terserang
1    Belalang Kayu (Valanga ningricornis)    Orthoptera    Peurometabola    Nimfa dan imago menggigit mengunyah    Daun Tanaman Bayam
2    Walang Sangit (Leptocorisa acuta)    Hemiptera    Peurometabola    Menusuk menghisap    Pada Tanaman Tomat
3    Kutu Daun (Aphis Sp)    Homoptera    Peurometabola    Menusuk Menghisap    Pada Daun jambu biji
4    Ulat Grayak (Spodoptera, sp)    Lepidoptera    Holometabola    Menggigit menguyah    Pada daun jagung
5    Lalat Buah (Dacus sp)    Diptera    Holometabola    Menggigit menguyah dan menjilat    Pada Buah Belimbing
6    Kumbang Kelapa (Oryctes rhinoceros)    Cloeptera    Holoemetabola    Menggigit menguyah    Pada tanaman kelapa


4.2.    Pembahasan
4.2.1.    Belalang Kayu (Valanga nigricornis)
 
(a)                                                    (b)
Gambar 1. (a) Belalang kayu, (b) Tanaman bayang yang diserang

Klasifikasi Hama Belalang:
Pylum    :    Arthopoda
Sub Filum    :    Mandibulata
Klas    :    Insect
Sub Klas    :    Pterygota
Ordo    :    Ortytoptera
Family    :    Acridiae
Genus    :    Valanga
Spesies    :    Valangga nigricornis

Daur Hidup dari ordo orthoptera (Valanga rignicornis) ini melewati masa perkembangan dengan tipe paurometabola yaitu melewati tahap telur, nimfa, dan kemudian imago. Imago ini yang kemudian kembali melakukan perkawinan dan bertelur serta meletakan telurnya di tanaman demikian siklus ini berjalan terus menerus.
Berdasarkan hasil pengamatan pada Ordo orthoptera yakni Belalang (Valanga nigricornis) secara umum morfologi hama serangga ini terdiri dari kepala (Caput) yang terdapat antena, dada (Toraks) terdapat enam kaki den sayap, dan perut (Abdomen) beruas. Caput meliputi antena dan mata majemuk, pada Toraks meliputi protoraks dan mesotoraks.
Tipe mulut pada belalang (Valanga nigricornis) merupakan bagian yang beruas-ruas yang terdiri dari tergum atau strenum, yang mana setiap strenum terdapat sigma, serta terdapat pula ovipositor yang berfungsi sebagai alat peletakkan telur (Ordo-ordo serangga, 2009).
Pengendalian Hama Belalang ini yaitu  Telur belalang didalam tanah diambil, demikian juga nimfa yang ada diberikan kepada ayam, menyemprotkan phosdrin, diazinon, basudin, dan insektisida lainnya.

4.2.2.    Walang Sangit (Leptocorisa acuta)
 
(a)                                           (b)
Gambar  2. (a) Walang sangit, (b) tomat yang terserang

Klasifikasi Haman walang sangit;
Pylum    :    Arthopoda
Klas    :    Insecta
Sub Klas    :    Pterygota
Ordo    ;    Hemiptera
Family    :    Alydidae
Genus    :    Leptocarisa
Spesies    :    Leptocarisa accuta
Daur Hidup dari ordo hemiptera (Leptocorisa acuta) ini melewati masa perkembangan dengan tipe paurometabola yaitu melewati tahap telur, nimfa, dan kemudian imago. Imago ini yang kemudian kembali melakukan perkawinan dan bertelur serta meletakan telurnya di tanaman demikian siklus ini berjalan terus menerus secara berkesinambungan.
Berdasarkan hasil pengamatan pada Ordo Hemiptera yakni walang sangit (Leptocorixa acuta)   secara umum morfologi hama serangga ini terdiri dari kepala (Caput), dada (Toraks), dan perut (Abdomen). Nama Hemiptera berarti "yang bersayap setengah". Nama itu diberikan karena serangga dari ordo ini memiliki sayap depan yang bagian pangkalnya keras seperti kulit, namun bagian belakangnya tipis seperti membran. Sayap depan ini pada sebagian anggota Hemiptera bisa dilipat di atas tubuhnya dan menutupi sayap belakangnya yang seluruhnya tipis dan transparan, sementara pada anggota Hemiptera lain sayapnya tidak dilipat sekalipun sedang tidak terbang. Ciri khas utama serangga anggota Hemiptera adalah struktur mulutnya yang berbentuk seperti jarum. Mereka menggunakan struktur mulut ini untuk menusuk ringanja dari makannya dan kemudian menghisap cairan di dalamnya (Rioardi, 2009).
Untuk walang sangit ini pengendaliannya dapat dilakukan secara manual namun cara pengendalian yang baik tergantung pada adalah Pengendalian hama terpadu tindakan ini adalah tindakan yang paling tepat dan merupakan tindakan yang bersifat fleksibel dalam menanggulangi hama yang menyerang tanaman terutama pada serangan yang disebabkan oleh walang sangit.


4.2.3.    Kutu Daun (Aphis Sp)
 
(a)                                           (b)
Gambar  3. (a) Kutu Daun, (b) Daun Jambu Biji Terserang

Klasifikasi Hama Kutu daun;
Pylum    :    Arthopoda
Klas    :    Insecta
Sub Klas    :    Apterygota
Ordo    :    Hemiptera
Family    :    Aphididae
Genus    :    Aphis
Spesies    :    Aphis, sp
Tanaman yang menjadi inang utama bagi kutu daun ini sebenarnya adalah jagung. Akan tetapi kutu ini memiliki inang alternative mulai dari tanaman padi sampai pada tanaman hutan seperti Acacia sp. Berdasarkan hasil pengamatan pada Ordo ini secara umum morfologi hama serangga ini terdiri dari kepala (Caput), dada (Toraks), dan perut (Abdomen).
Kutu ini menginfeksi semua bagian tanaman, akan tetapi infeksi terbanyak terjadi pada daun. Kutu ini selain merusak daun tanaman inangnya juga membawa sebagai vector dari berbagai macam virus penyakit. Populasi kutu ini dapat mengalami perkembangan yang pesat. Hal ini disebabkan oleh sifat perkembangbiakkannya yang parthenogenesis. Perkembangbiakan secara parthenogenesis memungkinkan suatu spesies untuk melestarikan jenisnya tanpa harus melakukan perkawinan (Kalshoven, 1981).
Daur hidup kutu ini dimulai dari telur, kemudian nympha, dan kutu dewasa. Pada fase nympha, kutu ini mengalami 4 tahapan.Tahapan pertama nympha akan tampak berwarna hijau cerah dan sudah terdapat antena. Tahap nympha kedua tampak berwarna hijau pale dan sudah tampak kepala, abdomen, mata berwarna merah, dan antenna yang terlihat lebih gelap dari pada warna tubuh. Pada tahap ketiga, antena akan terbagi menjadi 2 segmen, warna tubuh masih hijau pale dengan sedikit lebih gelap pada sisi lateral tubuhnya, kaki tampak lebih gelap daripada warna tubuh (Kalshoven, 1981).
Kutu dewasa ada beberapa yang memiliki sayap (alate) dan yang tidak memiliki saya (apterous). Sayap pada kutu ini memiliki panjang antara 0,04 to 0,088 inchi. Tubuh kutu dewasa berwarna kuning kehijauan sampai berwarna hijau gelap. Populasi kutu ini dapat dikontrol dengan kehadiran Aphelinus maidis. A. maidis akan memparasit kutu ini pada fase nympha. Selain itu, terdapat juga organisme predator seperti Allograpta sp. dan beberapa jenis kumbang (Kalshoven, 1981)
Untuk kutu daun ini cara pengendalian yang baik tergantung pada adalah Pengendalian hama terpadu tindakan ini adalah tindakan yang paling tepat dan merupakan tindakan yang bersifat fleksibel dalam menanggulangi hama yang menyerang tanaman terutama pada serangan yang disebabkan oleh kutu daun.





4.2.4.    Ulat Grayak (Spodoptera spp)
  
(b)                                                (b)
Gambar  4. (a) Ulat Grayak, (b) Daun jagung yang terserang

Klasifikasi Hama ulat grayak;
Pylum    :    Arthopoda
Klas    :    Insecta
Sub Klas    :    Pterygota
Ordo    :    Lepidoptera
Family    :    Noctuidae
Genus    :    Spodoptera
Spesies    :    Spodoptera litura
Ulat grayak dikenal dengan nama latin Leucania spp dan Spodoptera spp. Ulat “Grayak” sangat ditakuti oleh petani karena setiap musim panen hama ini selalu ada. Ulat “grayak” ini menyerang tanaman padi pada semua stadia. Serangan terjadi pada malam hari dan siang harinya, larva ulat “grayak” bersembunyi pada pangkal tanaman, dalam tanah atau di tempat-tempat yang tersembunyi.
Berdasarkan hasil pengamatan pada Ordo ini secara umum morfologi hama serangga ini terdiri dari kepala (Caput), dan perut (Abdomen). Serangga dewasa jenis Spodoptera litura, memiliki ukuran panjang badan 20 – 25 mm, berumur 5 – 10 hari dan untuk seekor serangga betina jenis ini dapat bertelur 1.500 butir dalam kelompok-kelompok 300 butir. Serangga ini sangat aktif pada malam hari, sementara pada siang hari serangga dewasa ini diam ditempat yang gelap dan bersembunyi.Serangga ini memiliki telur dengan bentuk bulat. Telur dari serangga Leucania separata susunannya diletakkan dalam 2 barisan dalam gulungan daun atau pada pangkal daun permukaan sebelah bawah, dengan ukuran 0,5 x 0,45 mm, berwarna putih abu-abu dan berubah menjadi kuning sebelum menetas. Sedangkan serangga Spodoptera F susunan telurnya diletakkan dalam kelompok tiap kelompok tersusun oleh 2 – 3 lapisan telur, dan kelompok telur tertutup oleh bulu-bulu pendek berwarna coklat kekuningan dengan umur telur 3 – 4 hari.
Larva Leucania separata memiliki jumlah instar 6 dengan ukuran instar 1 panjang 1,8 mm dan instar 6 panjang 30 – 35 mm berwarna hijau sampai merah jambu dan berumur 14 – 22 hari. Pada bagian punggungnya terdapat 4 garis berwarna hitam yang membujur sepanjang badan.Meskipun umur larva atau ulat grayak ini berkisar 20 – 26 hari, namun perlu diwaspadai karena larva atau ulat ini dapat menyerang hampir semua tanaman termasuk padi pada semua stadium pertumbuhan.
Daur atau iklus hidupnya setelah 20 – 26 hari ulat ini hidup dan menyerang tanaman, maka ia akan berubah menjadi kepompong dan selanjutnya berubah jadi kupu-kupu. Kupu-kupu bertelur dan setelah 4 – 5 hari akan menetas menjadi ulat atau larva yang akan menyerang tanaman.
Adapun cara pengendalian yang baik tergantung pada pengetahuan yang tentang biologi dan ekologi, terutama hubungan serangga hama dengan tanaman inang. Pengendalian hama terpadu merupakan tindakan yang bersifat fleksibel dalam menanggulangi hama yang menyerang tanaman.




4.2.5.    Lalat Buah (Dacus sp)
  
(a)                                          (b)
Gambar  5. (a) Lalat Buah, (b) Buah belimbing yang terserang

Klasifikasi Ilmiah
Kingdom             :     Animalia
Phyllum               :     Arthropoda
Kelas                   :     Insecta
Ordo                    :     Diptera
Famili                  :     Drosophilidae
Genus                  :     Drosophila
Spesies                :     Drosophila melanogaster
Lalat buah adalah organisme yang memiliki ciri yang sudah dikenal dan sesuai untuk penyelidikan genetika karena mudah berkembang biak dan memiliki siklus hidup singkat. Sepasang lalat buah dapat menghasilkan 300-400 butir telur. Siklus hidup drosophila terdiri atas stadium telur, larva, pupa, dan imago. Telur Drosophila sp. Telur Drosophila berukuran kira-kira 0,5 mm berbentuk lonjong, permukaan dorsal agak mendatar, sedangkan permukaan ventral agak membulat. Pada bagian anterodorsal terdapat sepasang filament yang fungsinya yang melekatkan diri pada permukaan, agar telur tidak tenggelam pada medium. Pada bagian ujung anterior terdapat lubang kecil yang disebut micropyle, yaitu tempat masuknya spermatozoa. Telur yang dikeluarkan dari tubuh biasanya sudah dalam tahap blastula. Dalam waktu 24 jam telur akan menetas menjadi larva. Larva yang menetas ini akan mengalami 2 kali pergantian kulit, sehingga periode stadium yang paling aktif. Larva kemudian menjadi pupa yang melekat pada permukaan yang relative kering, yaitu pada dinding botol kultur atau pada kertas saring. Pupa akan menetas menjadi imago setelah berumur 8-11 hari bergantung pada spesies dan suhu lingkungan. (http://supportme5.wordpress.com).
Dewasa pada Drosophila sp dalam satu siklus hidupnya berusia sekitar 9 hari. Setelah keluar dari pupa, lalat buah warnanya masih pucat dan sayapnya belum terbentang. Sementara itu, lalat betina akan kawin setelah berumur 8 jam dan akan menyimpan sperma dalam jumlah yang sangat banyak dari lalat buah jantan. Pada ujung anterior terdapat mikrophyle, tempat spermatozoa masuk ke dalam telur. Walaupun banyak sperma yang masuk ke dalam mikrophyle tapi hanya satu yang dapat berfertilisasi dengan pronuleus betina dan yang lainnya segera berabsorpsi dalam perkembangan jaringan embrio.
Pengendalian serangga hama ini adalah dengan pancingan minyak sereh wangi. Untuk membunuh lalat buah yang tertarik datang pada minyak sereh wangi yang diteteskan pada kapas, diperlukan bahan lain, misalnya deterjen atau bahan perekat. Dengan menambahkan bahan perekat pada tetesan minyak sereh wangi pada kapas ternyata dapat menambah keefektikan dalam mengendalikan populasi lalat buah jantan maupun betina.







4.2.6.    Kumbang Kelapa (Oryctes rhinoceros)
  
(a)                                                  (b)
Gambar  6. (a) Kumbang kelapa, (b) Daun kelapa yang terserang

Sistematika kumbang kelapa menurut Kalshoven (1981) adalah sbb:
Kingdom     :     Animalia
Filum     :     Arthropoda
Kelas     :     Insecta
Ordo     :     Coleoptera
Famili     :     Scarabaeidae
Genus     :     Oryctes
Spesies     :     Oryctes rhinoceros L.
Oryctes rhinoceros L. Merupakan serangga yang mengalami metamorfosis sempurna yang daur Hidup dari ordo ini melewati masa perkembangan dengan tipe holometabola  yaitu melewati tahap telur, larva, pupa dan kemudian imago. Imago ini yang kemudian kembali melakukan perkawinan dan bertelur serta meletakan telurnya di tanaman demikian siklus ini berjalan terus menerus secara berkesinambungan.
Berdasarkan hasil pengamatan pada Ordo Coleoptera yakni kumbang kelapa (Oryctes rhinocheros)   secara umum morfologi hama serangga ini terdiri dari kepala (Caput), dada (Toraks), dan perut (Abdomen). Mo (1957) dan Anonim (1989), mengemukakan bahwa telur serangga ini berarna putih, bentuknya mula-mula oval, kemudian bulat dengan diameter kurang lebih 3 mm. Telur-telur ini diletakkan oleh serangga betina pada tempat yang baik dan aman (misalnya dalam pohon kelapa yang melapuk), setelah 2 minggu telur-telur ini menetas.
Rata-rata fekunditas seekor serangga betina berkisar antara 49-61 butir telur, sedangkan di Australia berkisar 51 butir telur, bahkan dapat mencapai 70 butir (Bedford, 1980). Stadium telur berkisar antara 11-13 hari, rata-rata 12 hari (Khalshoven, 1981). Sedangkan menurut suhadirman (1996), telur-telur menetas setelah 12 hari.
Larva yang baru menetas berwarna putih dan setelah dewasa berwarna putih kekuningan, warna bagian ekornya agak gelap dengan panjang 7-10 cm. Larva deasa berukuran panjang 12 mm dengan kepala berwarna merah kecoklatan. Tubuh bagian belakang lebih besar dari bagian depan. Pada permukaan tubuh larva terdapat bulu-bulu pendek dan pada bagian ekor bulu-bulu tersebut tumbuh lebih rapat. Stadium larva 4-5 bulan ( Suhadirman, 1996), bahkan adapula yang mencapai 2-4 bulan lamanya (Nayar, 1976). Stadium larva terdiri dari 3 instar yaitu instar I selama 11-21 hari, instar II selama 12-21 hari dan instar III selama 60-165 hari (Berdford,1980).
Menurut Mo (1975), kumbang O.rhinoceros pada bagian atas berwarna hitam mengkilat, bagian bawah coklat merah tua. Panjangnya 3-5 cm. Tanduk kumbang jantan lebih panjang dari tanduk betina. Pada kumbang betina terdapat bulu yang tumbuh pada ujung abdomennya, sedangkan pada kumbang jantan bulu-bulu tersebut hampir tidak ditemukan.
Tanaman yang diserang oleh O. Rhinocheros adalah kelapa biasa, kelapa sawit, Royal palm (Roestonea regia), Latanier palm (Livistona chinensis), Talipot palm (Corypha umbraculifera) dan Raphia palm (Raphia roffia) (Bedford, 1980), selain itu dapat juga menyerang tanaman sagu, tebu, nenas dan tanaman aloe (Nayar, 1976).
Cara pengendalian yang baik tergantung pada pengetahuan yang tentang biologi dan ekologi, terutama hubungan serangga hama dengan tanaman inang. Pengendalian hama terpadu merupakan tindakan yang bersifat fleksibel dalam menanggulangi hama yang menyerang tanaman. Cara dan saat perlakuan tergantung pada bebagai faktor yaitu luas serangan atau tingkat populasi dan faktor lingkungan



V.    KESIMPULAN DAN SARAN

5.1.    Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil praktikum ini yaitu hama adalah organisme yang menyerang tanaman sehingga mengakibatkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman menjadi terganggu, yang berdampak turunnya kualitas dan kuantitas serta kerugian ekonomis bagi manusia.
Hama terdapat dalam berbagai jenis, salah satunya yaitu hama serangga. Serangga (disebut pula Insecta, dibaca "insekta") adalah kelompok utama dari hewan beruas (Arthropoda) yang bertungkai enam (tiga pasang); karena itulah mereka disebut pula Hexapoda (dari bahasa Yunani, berarti "berkaki enam").
Hama terbagi dalam beberapa ordo yaitu ordo orthoptera, ordo hemiptera, ordo homoptera, ordo diptera, ordo lepidoptera, dan ordo coleoptera. Untuk mengendalikan serangga hama ini harus dilakukan dengn menggunakan konsep pengendalian hama secara terpadu yang tidak merusak ekosistem dan terputusnya rantai makanan.

5.2.    Saran
Adapun saran yang dapat disampaikan berkaitan dengan diadakannya praktikum ini adalah agar pada pertanian di indonesia pemerintah dapat membantu petani dalam menghadapi masalah serangga hama yang kadang kala masalah ini menjadi problem utama petani bahkan kerab petani menjadi gagal panen akibat serangannya.
Dalam tindakannya diharapkan pemerintah membantu petani secara efektif juga pengendaliannya didasarkan atas pengendalian hama terpadu yang tidak merusak keberlangsungan ekosistem dan rantai makanan agar tidak terputus. Hingga diakhirnya diharapkan petani-petani indonesia menjadi sukses di bidangnya.

DAFTAR PUSTAKA

Arief, arifin. 1994. Perlindungan Tanaman Hama Penyakit dan Gulma. Usaha Nasional. Surabaya.

Sudarmo, subiyakto. 1995. Pengendalian Hama dan Gulma Pada Tanaman Perkebunan. Kanius.Yogyakarta.

Hartati, 2009. Laporan Praktikum Zoologi. http:// biologi-staincrb.web.id. Di akses pada tanggal 19 April 2012.

Jumar. 2000. Entomologi Pertanian. Rineka cipta, Jakarta

Sumangun H. 2000. Penyakit-penyakit Tanaman Hortikultura Di Indonesia.

Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

Rioardi, 2009. Ordo-Ordo Serangga. http://rioardi.wordpress.com. Di akses pada tanggal 19 April 2012.

Wikipedia. Homoptera. 2011. http://id.wikipedia.org/wiki/Homoptera. Di akses pada tanggal 19 April 2012.

Wikipedia. Hemiptera. 2011. http://id.wikipedia.org/wiki/Hemiptera. Di akses pada tanggal 19 April 2012.

Sabtu, 15 Juni 2013

TEKNOLOGI BENIH "Pengujian Viabilitas dan Vigor Benih Dengan Beberapa Metode" Stefanuseko

    PENDAHULUAN

     Latar Belakang
Dalam pertanian, tentu kita tidak lepas dari kata biji, dan benih. Dari sumber Wikipedia 2012, Biji (bahasa Latin : semen) adalah bakal biji (ovulum) dari tumbuhan berbunga yang telah masak. Biji dapat terlindung oleh organ lain (buah, pada Angiospermae atau Magnoliophyta) atau tidak (pada Gymnospermae). Dari sudut pandang evolusi, biji merupakan embrio atau tumbuhan kecil yang termodifikasi sehingga dapat bertahan lebih lama pada kondisi kurang sesuai untuk pertumbuhan. (Lihat pergiliran keturunan). Biji merupakan bakal biji (ovulum) yang dihasilkan oleh tumbuhan berbunga dan dikenal sebagai alat perkembangbiakan pada tumbuhan.. bibit adalah tanaman hasil perbanyakan atau penangkaran yang siap untuk ditanam, dapat bersal dari perbanyakan generatif (biji/benih) dan dapat juga bersal dari perbanyakan vegetif (cangkok, okulasi, stek, dll).
Sedangkan Benih adalah biji yang dipersiapkan untuk tanaman yang telah melalui proses seleksi, sehingga dapat diharapkan dapat mencapai proses tumbuh yang besar menjadi tanaman dewasa Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No.12 tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Pertanian Bab I ketentuan umum pasal 1 ayat 4 disebutkan bahwa benih tanaman yang selanjutnya disebut benih, adalah tanaman atau bagiannya yang digunakan untuk memperbanyak dan atau mengembangbiakkan tanaman. Dalam buku lain tertulis benih disini dimaksudkan sebagai biji tanaman yang dipergunakan untuk tujuan pertanaman (Sutopo, 2004).
Faktor yang mempengaruhi perkecambahan dapat berasal dari fator internal dan eksternal. Syarat tumbuh benih melipui syarat internal berupa kesiapan dan kemasakan embrio dan bagian-bagian penunjang lnternal. Syarat eksternal meliputi keadaaan lingkungan yang mendukung seperti pH, media, air, suhu dan lain sebagainya. Dapat juga perkecambahan dan syarat tumbuhnya dipengaruhi oleh faktor dalam yang meliputi: tingkat kemasakan benih, ukuran benih, dormansi, dan penghambat perkecambahan, serta faktor luar yang meliputi: air, temperatur, oksigen, dan cahaya (Sajad, 1993).

     Tujuan Praktikum
Adapun tujuan praktikum dari praktikum ini adalah untuk mengenal berbagai metode pendugaan parameter viabilitas benih dengan gejala pertumbuhan (pengujian viabilitas benih dengan kondisi lingkungan sesuai/favourable).

    TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kekuatan Tumbuh
Daya tumbuh benih adalah munculnya unsur – unsur utama dari lembaga dari suatu benih yang diuji yang menunjukkan kemampuan untuk menjadi tanaman normal apabila ditanam pada lingkungan yang sesuai bagi benih tersebut. Presentasi daya tumbuh benih adalah presentasi dan benih yang membentuk bibit/ tanaman normal pada lingkungan yang sesuai dalam jangka waktu tertentu. Tujuan pengujian daya tumbuh adalah untuk mendapatkan keterangan/ gambaran dari benih yang diuji yang mendekati kenyataan lapangan (Bagod Sudjadi, 2006).
Dari benih yang baik akan muncul kecambah normal, sebaliknya benih yang rusak, rendah kualitasnya menghasilkan kecambah atau bibit yang tidak normal atau abnormal. Kerusakan benih dapat terlihat nyata ( retak kulit, mengelupas atau biji pecah ). Tapi kadang terlihat kerusakan pada bagian dalam benih. Kerusakan benih dapat diketahui setelah benih berkecambah abnormal (Bagod Sudjadi, 2006).

2.2. Viabilitas dan Vigor Benih
Viabilitas adalah kemampuan benih atau daya hidup benih untuk tumbuh secara normal pada kondisi optimum. Berdasarkan pada kondisi lingkungan pengujian viabilitas benih dapat dikelompokkan ke dalam viabilitas benih dalam kondisi lingkungan sesuai (favourable) dan viabilitas benih dalam kondisi lingkungan tidak sesuai (unfavourable). Pengujian viabilitas benih dalam kondisi lingkungan tidak sesuai termasuk kedalam pengujian vigor benih. Perlakuan dengan kondisi lingkungan sesuai sebelum benih dikecambahkan tergolong untukmenduga parameter vigor daya simpan benih, sedangkan jika kondisi lingkungan tidak sesuai diberikan selama pengecambahan benih maka tergolong dalam pengujian untuk menduga parameter viabilitas tumbuh benih (Bagod Sudjadi, 2006).
Secara umum vigor diartikan sebagai kemampuan benih untuktumbuh normal pada keadaan lingkungan yang sub optimal. Vigor dipisahkan antara vigor genetik dan vigor fisiologi. Vigor genetik adalah vigor benih dari galur genetik yang berbeda-beda, sedang vigor fisiologi adalah vigor yang dapat dibedakan dalam galur genetik yangsama. Vigor fisiologi dapat dilihat antara lain dari indikasi tumbuh akar dari plumula atau koleptilnya, ketahanan terhadap serangan penyakit dan warna kotiledon dalam efeknya terhadap Tetrazolium Test. Informasi tentang daya kecambah benih yang ditentukan di laboratorium adalah pada kondisi yang optimum. Padahal kondisi lapang yang sebenarnya jarang didapati berada pada keadaan yang optimum. Keadaan sub optimum yang tidak menguntungkan di lapangan dapatmenambah segi kelemahan benih dan mengakibatkan turunnya persentase perkecambahan serta lemahnya pertumbuhan selanjutnya. Secara ideal semua benih harus memiliki kekuatan tumbuh yang tinggi, sehingga bila ditanam pada kondisi lapangan yang beraneka ragamakan tetap tumbuh sehat dan kuat serta berproduksi tinggi dengan kualitas baik (Bagod Sudjadi, 2006).
Vigor benih di cerminkan oleh dua informasi tentang viabilitas, masing-masing ‘kekuatan tumbuh’ dan ‘daya simpan’ benih. Kedua nilai fisioogi ini menempatkan benih pada kemungkinan kemampuannya untuk tumbuh menjadi tanaman normal meskipun keadaan biofisik lapangan produksi sub optimum atau sesudah benih melampui suatu periode simpan yang lama.Tanaman dengan tingkat vigor yang tinggi mungkin dapat dilihat dari performansi fenotipis kecambah atau bibitnya, yang selanjutnya mungkin dapat berfungsi sebagai landasan pokok untuk ketahananya terhadap berbagai unsur musibah yang menimpa. Vigor benih untuk kekuatan tumbuh dalam suasana kering dapat merupakan landasan bagi kemampuannya tanaman tersebut untuk tumbuh bersaing dengan tumbuhan pengganggu atau pun tanaman lainnya dalam pola tanam multipa. Vigor benih untuk tumbuh secara spontan merupakan landasan bagi kemampuan tanaman mengabsorpsi sarana produksi secara maksimal sebelum panen. Juga dalam memanfaatkan unsur sinar matahari khususnya selama periode pengisian dan pemasakan biji. Pada hakekatnya vigor benih harus relevan dengan tingkat produksi, artinya dari benih yang bervigor tinggi akan dapat dicapai tingkat produksi yang tinggi. Vigor benih yang tinggi dicirikan antara lain tahan disimpan lama, tahan terhadap serangan hama penyakit, cepat dan merata tumbuhnya serta mampu menghasilkan tanaman dewasa yang normal dan berproduksi baik dalam keadaan lingkungan tumbuh yang suboptimal (Bagod Sudjadi, 2006).

2.3. Ciri-ciri Vigor Benih Kuat dan Rendah
Vigor benih dapat dkategorikan dalam vigor benih kuat dan vigor benih lemah. Ciri-ciri benih yang mempunyai vigor tinggi atara lain benih ini dapat disimpan lama sehingga dapat mempermudah dalam penyimpanan benih dalam jumlah yang besar. Vigor benih tinggi juga memiiki cirri benih berkecambah cepat dan merata, Bebas dari penyakit benih, tahan terhadap gangguan mikroorganisme yang bersifat merugikan tanaman yang menyebabkan baik kerusakan fisik maupun fisiologis tanaman, Laju tumbuhnya tinggi dengan arti benih cepat tumbuh mulai dari perkembangan embrio, perkecambahannya, dan petumuhannya menuju tanaman dewasa, dan juga vigor benih yang tinggi ini memiliki produksi yang tinggi baik secara vegetative maupun generative nantinya.
Sedangkan ciri-ciri vigor benih rendah merupakan kebalikan dari vigor benih tinggi cirri-cirinya antara lain benih ini tidak dapat disimpan. Vigor benih rendah juga memiiki cirri benih berkecambah tidak cepat dan merata, Tidak bebas dari penyakit benih, tidak tahan terhadap gangguan mikroorganisme yang bersifat merugikan tanaman yang menyebabkan baik kerusakan fisik maupun fisiologis tanaman, Laju tumbuhnya rendah dengan arti benih lambat dalam pertumbuhannya tumbuh mulai dari perkembangan embrio, perkecambahannya, dan petumuhannya menuju tanaman dewasa, dan juga vigor rendah ini memiliki produksi yang rendah.

2.4. Pengertian Perkecambahan
Pengertian perkecambahan benih menurut Jann dan Amen dalam Usmanij (1990) dibedakan menjadi : (1) morfologis, yaitu perubahan bentuk embrio menjadi kecambah, (2) fisiologis, yaitu dimulainya kembali proses metabolisme dan pertumbuhan struktur penting dari embrio yang tadinya tertunda dan ditandai dengan munculnya struktur tersebut menembus kulit benih, dan (3) biokimia, yaitu suatu rangkaian perubahan lintasan-lintasan oksidatif yang menyebabkan perubahan senyawa-senyawa kimia dalam benih. Perkecambahan adalah proses pertumbuhan embrio dan komponen-komponen biji yang memiliki kemampuan untuk tumbuh secara normal menjadi tumbuhan baru. Komponen biji tersebut adalah bagian kecambah yang terdapat di dalam biji, misalnya radikula dan plumula. (Bagod Sudjadi, 2006).
Perkecambahan (germination) merupakan tahap awal perkembangan suatu tumbuhan, khususnya tumbuhan berbiji. Dalam tahap ini, embrio di dalam biji yang semula berada pada kondisi dorman mengalami sejumlah perubahan fisiologis yang menyebabkan ia berkembang menjadi tumbuhan muda. Tumbuhan muda ini dikenal sebagai kecambah (Wikipedia, 2012).
Perkecambahan diawali dengan penyerapan air dari lingkungan sekitar biji, baik tanah, udara, maupun media lainnya. Perubahan yang teramati adalah membesarnya ukuran biji yang disebut tahap imbibisi (berarti "minum"). Biji menyerap air dari lingkungan sekelilingnya, baik dari tanah maupun udara (dalam bentuk embun atau uap air. Efek yang terjadi adalah membesarnya ukuran biji karena sel-sel embrio membesar) dan biji melunak. Proses ini murni fisik. (http://id.shvoong.com. Empat Batasan Benih).
Kehadiran air di dalam sel mengaktifkan sejumlah enzim perkecambahan awal. Fitohormon asam absisat menurun kadarnya, sementara giberelin meningkat. Berdasarkan kajian ekspresi gen pada tumbuhan model Arabidopsis thaliana diketahui bahwa pada perkecambahan lokus-lokus yang mengatur pemasakan embrio, Diketahui pula bahwa dalam proses perkecambahan yang normal sekelompok faktor transkripsi yang mengatur auksin (disebut Auxin Response Factors, ARFs) diredam oleh miRNA (http://id.shvoong.com. Empat Batasan Benih).
Perubahan pengendalian ini merangsang pembelahan sel di bagian yang aktif melakukan mitosis, seperti di bagian ujung radikula. Akibatnya ukuran radikula makin besar dan kulit atau cangkang biji terdesak dari dalam, yang pada akhirnya pecah. Pada tahap ini diperlukan prasyarat bahwa cangkang biji cukup lunak bagi embrio untuk dipecah (http://id.shvoong.com. Empat Batasan Benih)

    BAHAN DAN METODE

    Waktu dan Tempat
Kegiatan praktikum Acara IV (Pengujian Viabilitas dan Vigor Benih Dengan Beberapa Metode) dilaksanakan di Laboratorium Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Palangkaraya. Kegiatan dilaksanakan pada hari rabu 5 November 2012 jam 09.00-10.40 WIB.

     Bahan dan Alat
Alat dan bahan yang digunakan pada praktikun kali ini yaitu benih kacang panjang, kacang tanah, padi, kacang hijau, cabai, jagung dan kacang kedelai, substrat pasir, arang sekam, dan kertas merang serta germinator.

    Cara Kerja
Adapun cara kerja yang dilakukan pada media pasir & arang sekam yaitu  Menyiapkan media dengan kelembapan yang cukup & benih yang dicoba. Kemudian masing – masing jenis benih ditanam dengan jumlah tertentu pada kedalaman 2-3 cm, kemudian tutup dengan media lembap yang sama (pemeliharaan:jaga kelembapannya)tempatkan ditempat tertentu. Mengamati dan menghitung masing-masing jenis benih tersebut pada masing-masing media dengan pedoman pada metode & kriteria yang sudah ditetapkan.
Untuk media kertas  merang dilakukan dengan menyiapkan media dengan kelembapan yang cukup & benih yang dicoba. masing-masing jenis diletakkan dimedia kertas sesuai dengan metodenya dengan jumlah tertentu & disusun secara teratur: kemudian masukkan kedalam generator (modifikasi). Kemudian mengamati dan menghitung masing-masing jenis benih tersebut pada masing-masing media dengan berpedoman pada metode & kriteria yang sudah ditetapkan.

    Pengamatan viabilitas dan vigor benih pada media pasir terhadap pertumbuhan kacang tanah
    PTM= (jumlah benih hidup)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = / x 100 %

    DB= (∑▒〖KN I〗+∑▒〖 KN II〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = / x 100 %

    KST = (∑▒〖KN (kuat)〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = / x 100 %

    IV= (∑▒〖KN I〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = / x100%

    KCT-max= 100/(∑▒〖hari hitung I〗) = 100/6 = 16,67 %⁄etmaL

    KCT-R= KCT/(KCT-max) x 100 %

    KCT= ((5⁄(21 x 100)))/5 + ((1⁄(21 x 100)))/5 + ((2⁄(21 x 100)))/5+ ((0⁄(21 x 100)))/5 + ((2⁄(21 x 100)))/5+ ((0⁄(21 x 100)))/5
    =  (4,76) + (0,79) + (1,36) + (0) + (1,05) + (0) = 7,96
KCT-R= KCT/(KCT-max) x 100 %
= 11,11/16,67 X 100 % = 66, 68 %

    BK-KN = 1,352 gram

     LPK= (BK-KN)/(∑▒KN) =1,352/5  = 0,27 gram/KN

    T-50=9+[(10-5)/10]  x 1 hari = 4,5 hari = 5 hari

    K-ABN=  (jumlah benih abnormal)/(jumlah benih yang ditanamam) x 100 %  = 4/21 x 100 %  = 19,04 %


    K-mati=  (jumlah benih mati)/(jumlah benih yang ditanamam) x 100 %  = 11/21 x 100 %  = 52 %




    Pengamatan viabilitas dan vigor benih pada media arang sekam terhadap pertumbuhan kacang tanah
    PTM= (jumlah benih hidup)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 13/21 x 100 % = 61,9 %

    DB= (∑▒〖KN I〗+∑▒〖 KN II〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = (9+4)/21 x 100 % = 61,9 %

    KST = (∑▒〖KN (kuat)〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  =  10/21x 100 % = 47,61 %

    IV= (∑▒〖KN I〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 9/21 x100% = 42,85 %

    KCT-max= 100/(∑▒〖hari hitung I〗) = 100/6 = 16,67 %⁄etmaL

    KCT-R= KCT/(KCT-max) x 100 %

    KCT= ((9⁄(21 x 100)))/5 + ((1⁄(21 x 100)))/6 + ((1⁄(21 x 100)))/7+ ((1⁄(21 x 100)))/8 + ((0⁄(21 x 100)))/9+((1⁄(21 x 100)))/10
    =  (8,57) + (0,79) + (0,68) + (0,6) + (0) + (0,476) = 11,11
KCT-R= KCT/(KCT-max) x 100 %
= 11,11/16,67 X 100 % = 66, 68 %

    BK-KN = 1,410 gram
     LPK= (BK-KN)/(∑▒KN) =1,410/9  = 0,1567 gram/KN

    T-50=9+[(10-5)/10]  x 1 hari = 5,41 hari = 5 hari

    K-ABN=  (jumlah benih abnormal)/(jumlah benih yang ditanamam) x 100 %  = 0/21 x 100 %  = 0 %

    K-mati=  (jumlah benih mati)/(jumlah benih yang ditanamam) x 100 %  = 7/21 x 100 %  = 33,3 %






    Pengamatan viabilitas dan vigor benih pada media KERTAS MERANG terhadap pertumbuhan kacang tanah

    PTM= (jumlah benih hidup)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 18/21 x 100 % = 85,7 %

    DB= (∑▒〖KN I〗+∑▒〖 KN II〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = (7+8)/21 x 100 % = 71,42 %

    KST = (∑▒〖KN (kuat)〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 15/21 x 100 % = 71,42 %

    IV= (∑▒〖KN I〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 7/21 x100% = 33,33 %

    KCT-max= 100/(∑▒〖hari hitung I〗) = 100/6 = 16,67 %⁄etmaL

    KCT-R= KCT/(KCT-max) x 100 %

    KCT= ((7⁄(21 x 100)))/5 + ((1⁄(21 x 100)))/5 + ((0⁄(21 x 100)))/5+ ((5⁄(21 x 100)))/5 + ((3⁄(21 x 100)))/5+ ((0⁄(21 x 100)))/5
    =  (6,67) + (0,79) + (0) + (2,97) + (1,587) + (0) = 12,017

KCT-R= KCT/(KCT-max) x 100 %
= 11,11/16,67 X 100 % = 66, 68 %

    BK-KN = 1,672 gram

     LPK= (BK-KN)/(∑▒KN) =1,672/7  = 0,23 gram/KN

    T-50=6+[(8-9)/8]  x 1 hari = 5,875 hari = 6 hari

    K-ABN=  (jumlah benih abnormal)/(jumlah benih yang ditanamam) x 100 %    = 2/21 x 100 %  = 9,52 %


    K-mati=  (jumlah benih mati)/(jumlah benih yang ditanamam) x 100 % = 3/21 x 100 %  = 14,28 %

    Pengamatan viabilitas dan vigor benih pada media pasir terhadap pertumbuhan jagung

    PTM= (jumlah benih hidup)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 21/24 x 100 % = 87,5 %

    DB= (∑▒〖KN I〗+∑▒〖 KN II〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = (20+1)/24 x 100 % = 87,5 %

    KST = (∑▒〖KN (kuat)〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 12/24 x 100 % = 50 %

    IV= (∑▒〖KN I〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 20/24 x100% = 83,3 %

    KCT-max= 100/(∑▒〖hari hitung I〗) = 100/3 = 33,33 %⁄etmaL

    KCT-R= KCT/(KCT-max) x 100 %

    KCT= ((20⁄(24 x 100)))/5 + ((1⁄(24 x 100)))/6 + ((0⁄(24 x 100)))/7
     =  (16,67) + (0,69) + (0) = 17,36

KCT-R= KCT/(KCT-max) x 100 %
= 17,36/33,33 X 100 % = 52 %

    BK-KN = 1,720 gram

     LPK= (BK-KN)/(∑▒KN) =(1,720 )/20  = 0,86 gram/KN

    T-50=5+[(20-21)/20]  x 1 hari = 6 hari

    K-ABN=  (jumlah benih abnormal)/(jumlah benih yang ditanamam) x 100 %  = 0/21 x 100 %  = 0 %


    K-mati=  (jumlah benih mati)/(jumlah benih yang ditanamam) x 100 %  = 3/21 x 100 %  = 12,5 %


    Pengamatan viabilitas dan vigor benih pada media arang sekam terhadap pertumbuhan jagung

    PTM= (jumlah benih hidup)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 4/24 x 100 % = 16 %

    DB= (∑▒〖KN I〗+∑▒〖 KN II〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = (17+1)/24 x 100 % = 75 %

    KST = (∑▒〖KN (kuat)〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 13/24 x 100 % = 54%

    IV= (∑▒〖KN I〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 17/24 x100% = 70,83 %

    KCT-max= 100/(∑▒〖hari hitung I〗) = 100/6 = 16,67 %⁄etmaL

    KCT-R= KCT/(KCT-max) x 100 %

    KCT= ((1⁄(24 x 100)))/5 + ((16⁄(24 x 100)))/6 + ((1⁄(24 x 100)))/7
     =  (0,83) + (11,11) + (0,83) = 12,77

KCT-R= KCT/(KCT-max) x 100 %
= 12,77/16,67 x 100 % = 76,61 %

    BK-KN = 1,720 gram

     LPK= (BK-KN)/(∑▒KN) =(1,720 )/17  = 0,10 gram/KN

    T-50=5+[(20-21)/20]  x 1 hari = 6 hari

    K-ABN=  (jumlah benih abnormal)/(jumlah benih yang ditanamam) x 100 %  = 8/21 x 100 %  = 34 %


    K-mati=  (jumlah benih mati)/(jumlah benih yang ditanamam) x 100 %  = 0/21 x 100 %  = 0 %


    Pengamatan viabilitas dan vigor benih pada media Kertas Merang terhadap pertumbuhan jagung

    PTM= (jumlah benih hidup)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 15/24 x 100 % = 62,5 %

    DB= (∑▒〖KN I〗+∑▒〖 KN II〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 23/24 x 100 % = 95,8%

    KST = (∑▒〖KN (kuat)〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 23/24 x 100 % = 95,8%

    IV= (∑▒〖KN I〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 22/24 x100% = 91,6 %

    KCT-max= 100/(∑▒〖hari hitung I〗) = 100/3 = 33,33 %⁄etmaL

    KCT-R= KCT/(KCT-max) x 100 %

    KCT= ((1⁄(24 x 100)))/5 + ((16⁄(24 x 100)))/6 + ((1⁄(24 x 100)))/7
     =  (0,83) + (11,11) + (0,83) = 12,77

KCT-R= KCT/(KCT-max) x 100 %
= 12,77/16,67 x 100 % = 76,61 %

    BK-KN = 1,870 gram

     LPK= (BK-KN)/(∑▒KN) =1,870/17  = 0,11 gram/KN

    T-50=5+[(20-21)/20]  x 1 hari = 6 hari

    K-ABN=  (jumlah benih abnormal)/(jumlah benih yang ditanamam) x 100 %  = 0/21 x 100 %  = 0 %

    K-mati=  (jumlah benih mati)/(jumlah benih yang ditanamam) x 100 %  = 0/21 x 100 %  = 0%



    Pengamatan Viabilitas Dan Vigor Benih Pada Media Pasir Terhadap Pertumbuhan Benih Kacang Kedelai

    PTM= (jumlah benih hidup)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 4/21 x 100 % = 19 %

    DB= (∑▒〖KN I〗+∑▒〖 KN II〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = (2+2)/21 x 100 % = 19 %

    KST = (∑▒〖KN (kuat)〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  =  4/21x 100 % = 19 %

    IV= (∑▒〖KN I〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 2/21 x100% = 9,52 %

    KCT-max= 100/(∑▒〖hari hitung I〗) = 100/4 = 25  %⁄etmaL

    KCT-R= KCT/(KCT-max) x 100 %

    KCT= ((2⁄(21 x 100)))/5 + ((1⁄(21 x 100)))/6 + ((1⁄(21 x 100)))/7+ ((0⁄(21 x 100)))/8
     =  (1,90) + (0,79) + (0,68) + ( (0) = 3,37

KCT-R= KCT/(KCT-max) x 100 %
= 3,37/25 X 100 % = 13,48 %

    BK-KN = 0,50 gram
     LPK= (BK-KN)/(∑▒KN) =0,5/2  = 0,023 gram/KN

    T-50=5+[(2-2)/2]  x 1 hari = 5 hari

    K-ABN=  (jumlah benih abnormal)/(jumlah benih yang ditanamam) x 100 %  = 1/21 x 100 %  = 4,76 %

    K-mati=  (jumlah benih mati)/(jumlah benih yang ditanamam) x 100 %  = 14/21 x 100 %  = 66,67 %



    Pengamatan Viabilitas Dan Vigor Benih Pada Media Arang Sekam Terhadap Pertumbuhan Benih Kacang Kedelai

    PTM= (jumlah benih hidup)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 16/21 x 100 % = 76,19 %

    DB= (∑▒〖KN I〗+∑▒〖 KN II〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = (15+3)/21 x 100 % = 85,71%

    KST = (∑▒〖KN (kuat)〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  =  13/21x 100 % = 61,90 %

    IV= (∑▒〖KN I〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 15/21 x100% = 71,42 %

    KCT-max= 100/(∑▒〖hari hitung I〗) = 100/4 = 25  %⁄etmaL

    KCT-R= KCT/(KCT-max) x 100 %

    KCT= ((15⁄(21 x 100)))/5 + ((0⁄(21 x 100)))/6 + ((1⁄(21 x 100)))/7+ ((0⁄(21 x 100)))/8
     =  (14,28) + (0) + (0,68) + (0) = 14,96

KCT-R= KCT/(KCT-max) x 100 %
= 14,96/25 X 100 % = 59,84 %

    BK-KN = 1,11 gram
     LPK= (BK-KN)/(∑▒KN) =1,11/2  = 0,052 gram/KN

    T-50=5+[(15-1,06)/15]  x 1 hari = 6 hari

    K-ABN=  (jumlah benih abnormal)/(jumlah benih yang ditanamam) x 100 %  = 2/21 x 100 %  = 9,52 %

    K-mati=  (jumlah benih mati)/(jumlah benih yang ditanamam) x 100 %  = 0/21 x 100 %  = 0 %



    Pengamatan Viabilitas Dan Vigor Benih Pada Media kertas Merang Terhadap Pertumbuhan Benih Kacang Kedelai

    PTM= (jumlah benih hidup)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 17/21 x 100 % = 81 %

    DB= (∑▒〖KN I〗+∑▒〖 KN II〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = (14+3)/21 x 100 % = 80,95%

    KST = (∑▒〖KN (kuat)〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  =  13/21x 100 % = 61,90 %

    IV= (∑▒〖KN I〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 14/21 x100% = 16,67 %

    KCT-max= 100/(∑▒〖hari hitung I〗) = 100/4 = 25  %⁄etmaL

    KCT-R= KCT/(KCT-max) x 100 %

    KCT= ((7⁄(21 x 100)))/5 + ((7⁄(21 x 100)))/6 + ((1⁄(21 x 100)))/7+ ((0⁄(21 x 100)))/8 + ((1⁄(21 x 100)))/8+ ((0⁄(21 x 100)))/8
     =  (11,11) + (8,33) + (0,95) + (0) + (0,68) + (0) = 21,07

KCT-R= KCT/(KCT-max) x 100 %  = 12,07/25 x 100 % = 49,08 %

    BK-KN = 2 gram
     LPK= (BK-KN)/(∑▒KN) =2/14  = 0,14 gram/KN

    T-50=4+[(14-1,14)/14]  x 1 hari = 5 hari

    K-ABN=  (jumlah benih abnormal)/(jumlah benih yang ditanamam) x 100 %  = 1/21 x 100 %  = 4,76 %

    K-mati=  (jumlah benih mati)/(jumlah benih yang ditanamam) x 100 %  = 1/21 x 100 %  = 4,76 %





    Pengamatan viabilitas dan vigor benih pada media pasir terhadap pertumbuhan tanaman Padi

    PTM= (jumlah benih hidup)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 20/30 x 100 % = 66,6 %

    DB= (∑▒〖KN I〗+∑▒〖 KN II〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = (10+10)/30 x 100 % = 66,6 %

    KST = (∑▒〖KN (kuat)〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 15/30 x 100 % = 50 %

    IV= (∑▒〖KN I〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 10/30 x100% = 3,3 %

    KCT-max= 100/(∑▒〖hari hitung I〗) = 100/11 = 9,09 %⁄etmaL

    KCT-R= KCT/(KCT-max) x 100 %

    KCT= ((10⁄(30 x 100)))/5 + ((3⁄(30 x 100)))/6 + ((7⁄(30 x 100)))/7+ ((0⁄(30 x 100)))/8 + ((0⁄(30 x 100)))/9+ ((0⁄(30 x 100)))/10 + ((0⁄(30 x 100)))/11 + ((0⁄(30 x 100)))/12
    =  (6,6) + (1,6) + (3,3) = 11,5

KCT-R= KCT/(KCT-max) x 100 %

= 11,5/9,09 X 100 % = 126 %

    BK-KN = 1,820 gram

     LPK= (BK-KN)/(∑▒KN) =1,820/30  = 0,6 gram/KN

    T-50=5+[(10-10)/10]  x 1 hari = 5 hari
    K-ABN=  (jumlah benih abnormal)/(jumlah benih yang ditanamam) x 100 %  = 0/21 x 100 %  = 0 %
    K-mati=  (jumlah benih mati)/(jumlah benih yang ditanamam) x 100 %  = 10/21 x 100 %  = 33,3 %


    Pengamatan viabilitas dan vigor benih pada media Arang Sekam terhadap pertumbuhan tanaman Padi

    PTM= (jumlah benih hidup)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 17/30 x 100 % = 56,6 %

    DB= (∑▒〖KN I〗+∑▒〖 KN II〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = (4+3)/30 x 100 % = 56,6 %

    KST = (∑▒〖KN (kuat)〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 14/30 x 100 % = 46,6 %

    IV= (∑▒〖KN I〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 4/30 x100% = 13,3 %

    KCT-max= 100/(∑▒〖hari hitung I〗) = 100/11 = 9,09 %⁄etmaL

    KCT-R= KCT/(KCT-max) x 100 %

    KCT= ((4⁄(30 x 100)))/5 + ((10⁄(30 x 100)))/6 + ((0⁄(30 x 100)))/7+ ((0⁄(30 x 100)))/8 + ((1⁄(30 x 100)))/9+ ((0⁄(30 x 100)))/10 + ((2⁄(30 x 100)))/11 + ((0⁄(30 x 100)))/12 + ((0⁄(30 x 100)))/13 + ((0⁄(30 x 100)))/14
    =  (2,66) + (5,55) + 0 + 0 + 0 + 0,37 + 0 + 0,6 + 0 + 0 + 0 = 9,18

KCT-R= KCT/(KCT-max) x 100 %   =   9,18/9,09 X 100 % = 101 %

    BK-KN = 1,520 gram

     LPK= (BK-KN)/(∑▒KN) =1,520/30  = 0,55 gram/KN

    T-50=5+[(4-8,5)/4]  x 1 hari = 4 hari

    K-ABN=  (jumlah benih abnormal)/(jumlah benih yang ditanamam) x 100 %  = 20/21 x 100 %  = 6,66 %


    K-mati=  (jumlah benih mati)/(jumlah benih yang ditanamam) x 100 %  = 13/21 x 100 %  = 43,3 %

    Pengamatan viabilitas dan vigor benih pada media kertas merang terhadap pertumbuhan tanaman Padi

    PTM= (jumlah benih hidup)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 22/30 x 100 % = 73,3 %

    DB= (∑▒〖KN I〗+∑▒〖 KN II〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = (19+3)/30 x 100 % = 73,3%

    KST = (∑▒〖KN (kuat)〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 20/30 x 100 % = 66,6 %

    IV= (∑▒〖KN I〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 19/30 x100% = 63,3 %

    KCT-max= 100/(∑▒〖hari hitung I〗) = 100/11 = 9,09 %⁄etmaL

    KCT-R= KCT/(KCT-max) x 100 %

    KCT= ((19⁄(30 x 100)))/5 + ((0⁄(30 x 100)))/6 + ((0⁄(30 x 100)))/7+ ((1⁄(30 x 100)))/8 + ((2⁄(30 x 100)))/9+ ((0⁄(30 x 100)))/10 + ((0⁄(30 x 100)))/11 + ((0⁄(30 x 100)))/12 + ((0⁄(30 x 100)))/13 + ((0⁄(30 x 100)))/14
    =  (12,6) + 0 + 0 + (0,41) + (0,74) + 0 + 0 + 0 + 0 = 13,75

KCT-R= KCT/(KCT-max) x 100 %  =   13,75/9,09 X 100 % = 151 %

    BK-KN = 2,530 gram

     LPK= (BK-KN)/(∑▒KN) =(2,530 )/30  = 0,08 gram/KN

    T-50=5+[(19-11)/19]  x 1 hari = 6 hari

    K-ABN=  (jumlah benih abnormal)/(jumlah benih yang ditanamam) x 100 %  = 0/21 x 100 %  = 0 %


    K-mati=  (jumlah benih mati)/(jumlah benih yang ditanamam) x 100 %  = 8/21 x 100 %  = 26,6 %
   
    Pengamatan viabilitas dan vigor benih pada media arang sekam terhadap pertumbuhan kacang panjang

    PTM= (jumlah benih hidup)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 7/24 x 100 % = 29,16 %

    DB= (∑▒〖KN I〗+∑▒〖 KN II〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = (7+1)/24 x 100 % = 33,33 %

    KST = (∑▒〖KN (kuat)〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 4/24 x 100 % = 16,16%

    IV= (∑▒〖KN I〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 7/24 x100% = 29,16 %

    KCT-max= 100/(∑▒〖hari hitung I〗) = 100/4 = 25 %⁄etmaL

    KCT-R= KCT/(KCT-max) x 100 %

    KCT= ((7⁄(24 x 100)))/5 + ((0⁄(24 x 100)))/6 + ((1⁄(24 x 100)))/7 + ((0⁄(24 x 100)))/8
     =  (5,83) + (0) + (0,59) + (0)  = 6,42

KCT-R= KCT/(KCT-max) x 100 %
= 6,42/25 x 100 % = 25,68 %

    BK-KN = 1,360 gram

     LPK= (BK-KN)/(∑▒KN) =(1,360 )/7  = 0,194 gram/KN

    T-50=4+[(7-3,5)/7]  x 1 hari = 4,5 hari

    K-ABN=  (jumlah benih abnormal)/(jumlah benih yang ditanamam) x 100 %  = 1/21 x 100 %  = 4,16 %


    K-mati=  (jumlah benih mati)/(jumlah benih yang ditanamam) x 100 %  = 4/21 x 100 %  = 45,83 %

    Pengamatan viabilitas dan vigor benih pada media pasir terhadap pertumbuhan kacang panjang

    PTM= (jumlah benih hidup)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 22/24 x 100 % = 91,66 %

    DB= (∑▒〖KN I〗+∑▒〖 KN II〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = (22+(-4))/24 x 100 % = 75 %

    KST = (∑▒〖KN (kuat)〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 21/24 x 100 % = 87,5 %

    IV= (∑▒〖KN I〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 22/24 x100% = 91,66 %

    KCT-max= 100/(∑▒〖hari hitung I〗) = 100/4 = 25 %⁄etmaL

    KCT-R= KCT/(KCT-max) x 100 %

    KCT= ((22⁄(24 x 100)))/5 + ((0⁄(24 x 100)))/6 + (((-2)⁄(24 x 100)))/7 + (((-2)⁄(24 x 100)))/8
     =  (18,33) + (0) + (-1,1) + (-1,04)  = 16,19

KCT-R= KCT/(KCT-max) x 100 %
= 16,19/25 x 100 % = 64,76 %

    BK-KN = 1,251 gram

     LPK= (BK-KN)/(∑▒KN) =(1,251  )/22  = 0,056 gram/KN

    T-50=4+[(22-18)/22]  x 1 hari = 4,1 hari = 4 hari

    K-ABN=  (jumlah benih abnormal)/(jumlah benih yang ditanamam) x 100 %  = 0/24 x 100 %  = 0 %


    K-mati=  (jumlah benih mati)/(jumlah benih yang ditanamam) x 100 %  = 2/24 x 100 %  = 8,3 %


    Pengamatan viabilitas dan vigor benih pada media kertas merang terhadap pertumbuhan kacang panjang

    PTM= (jumlah benih hidup)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 22/24 x 100 % = 91,6 %

    DB= (∑▒〖KN I〗+∑▒〖 KN II〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = (22+0)/24 x 100 % = 91,6%

    KST = (∑▒〖KN (kuat)〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 17/24 x 100 % = 70,83%

    IV= (∑▒〖KN I〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 22/24 x100% = 91,6 %

    KCT-max= 100/(∑▒〖hari hitung I〗) = 100/4 = 25 %⁄etmaL

    KCT-R= KCT/(KCT-max) x 100 %

    KCT= ((22⁄(24 x 100)))/5 + ((0⁄(24 x 100)))/6 + ((0⁄(24 x 100)))/7 + ((0⁄(24 x 100)))/8
     =  (18,33) + (0) + (0) + (0)  = 18,33

KCT-R= KCT/(KCT-max) x 100 %
= 18,33/25 x 100 % = 73,32  %⁄etmaL

    BK-KN = 1,360 gram

     LPK= (BK-KN)/(∑▒KN) =(1,355 )/22  = 0,061 gram/KN

    T-50=4+[(22-22)/22]  x 1 hari = 4 hari

    K-ABN=  (jumlah benih abnormal)/(jumlah benih yang ditanamam) x 100 %  = 0/24 x 100 %  = 0 %


    K-mati=  (jumlah benih mati)/(jumlah benih yang ditanamam) x 100 %  = 0/24 x 100 %  = 0 %

    Pengamatan viabilitas dan vigor benih pada media pasir terhadap pertumbuhan tanaman Cabe

    PTM= (jumlah benih hidup)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 21/25 x 100 % = 84 %

    DB= (∑▒〖KN I〗+∑▒〖 KN II〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = (12+6)/25 x 100 % = 72 %

    KST = (∑▒〖KN (kuat)〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 15/25 x 100 % = 60 %

    IV= (∑▒〖KN I〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 12/25 x100% = 48 %

    KCT-max= 100/(∑▒〖hari hitung I〗) = 100/7 = 14,28 %⁄etmaL

    KCT-R= KCT/(KCT-max) x 100 %

    KCT= ((12⁄(25 x 100)))/5 + ((6⁄(25 x 100)))/6 + ((0⁄(25 x 100)))/7 + ((0⁄(25 x 100)))/8 + ((0⁄(25 x 100)))/9
 + ((0⁄(25 x 100)))/10 + ((0⁄(25 x 100)))/11 + ((0⁄(25 x 100)))/12 + ((0⁄(25 x 100)))/13 + ((0⁄(25 x 100)))/14

     =  (6,8) + (3) + (0) + (0) + (0)+ (0)+ (0) +(0)  = 9,8 %

KCT-R= KCT/(KCT-max) x 100 %
= 9,8/14,28 x 100 % = 68,6  %⁄etmaL

    BK-KN = 1,837 gram

     LPK= (BK-KN)/(∑▒KN) =(1,837 )/18  = 0,102 gram/KN
    T-50=7+[(12-6)/12]  x 1 hari = 7,5 hari

    K-ABN=  (jumlah benih abnormal)/(jumlah benih yang ditanamam) x 100 %  = 3/25 x 100 %  = 12 %


    K-mati=  (jumlah benih mati)/(jumlah benih yang ditanamam) x 100 %  = 4/25 x 100 %  = 16 %
    Pengamatan viabilitas dan vigor benih pada media Arang Sekam terhadap pertumbuhan tanaman Cabe

    PTM= (jumlah benih hidup)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 23/25 x 100 % = 92 %

    DB= (∑▒〖KN I〗+∑▒〖 KN II〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = (22+1)/25 x 100 % = 92 %

    KST = (∑▒〖KN (kuat)〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 20/25 x 100 % = 80 %

    IV= (∑▒〖KN I〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 22/25 x100% = 88 %

    KCT-max= 100/(∑▒〖hari hitung I〗) = 100/7 = 14,28 %⁄etmaL

    KCT-R= KCT/(KCT-max) x 100 %

    KCT= ((22⁄(25 x 100)))/5 + ((0⁄(25 x 100)))/6 + ((0⁄(25 x 100)))/7 + ((1⁄(25 x 100)))/8 + ((0⁄(25 x 100)))/9
 + ((0⁄(25 x 100)))/10 + ((0⁄(25 x 100)))/11 + ((0⁄(25 x 100)))/12 + ((0⁄(25 x 100)))/13 + ((0⁄(25 x 100)))/14

     =  (12,6) + (0) + (0) + (0,4) + (0)+ (0)+ (0) +(0)  = 13 %

KCT-R= KCT/(KCT-max) x 100 %
= 13/14,28 x 100 % =  91  %⁄etmaL

    BK-KN = 2,493gram

     LPK= (BK-KN)/(∑▒KN) =(2,493 )/23  = 0,108 gram/KN
    T-50=7+[(22-1)/22]  x 1 hari = 7,95 hari

    K-ABN=  (jumlah benih abnormal)/(jumlah benih yang ditanamam) x 100 %  = 0/25 x 100 %  = 0 %


    K-mati=  (jumlah benih mati)/(jumlah benih yang ditanamam) x 100 %  = 2/25 x 100 %  = 8 %
    Pengamatan viabilitas dan vigor benih pada media kertas merang terhadap pertumbuhan tanaman Cabe

    PTM= (jumlah benih hidup)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 23/25 x 100 % = 92 %

    DB= (∑▒〖KN I〗+∑▒〖 KN II〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = (23+0)/25 x 100 % = 92 %

    KST = (∑▒〖KN (kuat)〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 16/25 x 100 % = 0,64 %

    IV= (∑▒〖KN I〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 0,92/25 x100% = 92 %

    KCT-max= 100/(∑▒〖hari hitung I〗) = 100/7 = 14,28 %⁄etmaL

    KCT-R= KCT/(KCT-max) x 100 %

    KCT= ((23⁄(25 x 100)))/5 + ((0⁄(25 x 100)))/6 + ((0⁄(25 x 100)))/7 + ((0⁄(25 x 100)))/8 + ((0⁄(25 x 100)))/9
 + ((0⁄(25 x 100)))/10 + ((0⁄(25 x 100)))/11 + ((0⁄(25 x 100)))/12 + ((0⁄(25 x 100)))/13 + ((0⁄(25 x 100)))/14

     =  (13,14) + (0) + (0) + (0) + (0)+ (0)+ (0) +(0)  = 13,14 %

KCT-R= KCT/(KCT-max) x 100 %
= 13,14/14,28 x 100 % =  92  %⁄etmaL

    BK-KN = 1,726 gram

     LPK= (BK-KN)/(∑▒KN) =(1,726  )/23  = 0,075 gram/KN
    T-50=7+[(23+0)/23]  x 1 hari = 8 hari

    K-ABN=  (jumlah benih abnormal)/(jumlah benih yang ditanamam) x 100 %  = 0/25 x 100 %  = 0 %


    K-mati=  (jumlah benih mati)/(jumlah benih yang ditanamam) x 100 %  = 2/25 x 100 %  = 8 %

    Pengamatan viabilitas dan vigor benih pada media pasir terhadap pertumbuhan tanaman Kacang Hijau

    PTM= (jumlah benih hidup)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 30/30 x 100 % = 100 %

    DB= (∑▒〖KN I〗+∑▒〖 KN II〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = (30+0)/30 x 100 % = 100 %

    KST = (∑▒〖KN (kuat)〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 11/30 x 100 % = 36,6 %

    IV= (∑▒〖KN I〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 30/30 x100% = 100 %

    KCT-max= 100/(∑▒〖hari hitung I〗) = 100/4 = 25 %⁄etmaL

    KCT-R= KCT/(KCT-max) x 100 %

    KCT= ((30⁄(30 x 100)))/5 + ((6⁄(30 x 100)))/6 + ((0⁄(30 x 100)))/7 + ((0⁄(30 x 100)))/8
     =  (25) + (0) + (0) + (0) = 25 %

KCT-R= KCT/(KCT-max) x 100 %
= 25/25 x 100 % = 100  %⁄etmaL

    BK-KN = 2,271 gram

     LPK= (BK-KN)/(∑▒KN) =(2,271 )/30  = 0,075 gram/KN
    T-50=4+[(30-0)/30]  x 1 hari = 5 hari

    K-ABN=  (jumlah benih abnormal)/(jumlah benih yang ditanamam) x 100 %  = 0/30 x 100 %  = 0 %


    K-mati=  (jumlah benih mati)/(jumlah benih yang ditanamam) x 100 %  = 0/30 x 100 %  = 0 %



    Pengamatan viabilitas dan vigor benih pada media arang Sekam terhadap pertumbuhan tanaman Kacang Hijau

    PTM= (jumlah benih hidup)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 28/30 x 100 % = 93 %

    DB= (∑▒〖KN I〗+∑▒〖 KN II〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = (28+0)/30 x 100 % = 93 %

    KST = (∑▒〖KN (kuat)〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 17/30 x 100 % = 56 %

    IV= (∑▒〖KN I〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 28/30 x100% = 93 %

    KCT-max= 100/(∑▒〖hari hitung I〗) = 100/4 = 25 %⁄etmaL

    KCT-R= KCT/(KCT-max) x 100 %

    KCT= ((28⁄(30 x 100)))/4 + ((1⁄(30 x 100)))/5 + (((-1)⁄(30 x 100)))/6 + ((0⁄(30 x 100)))/7
     =  (23,33) + (0,6) + (-0,5) + (0) = 25 %

KCT-R= KCT/(KCT-max) x 100 %
= 23,33/25 x 100 % = 93,72 %⁄etmaL

    BK-KN = 1,873 gram

     LPK= (BK-KN)/(∑▒KN) =(1,873  )/30  = 0,0669 gram/KN
    T-50=4+[(28-0)/28]  x 1 hari = 5 hari

    K-ABN=  (jumlah benih abnormal)/(jumlah benih yang ditanamam) x 100 %  = 0/30 x 100 %  = 0 %


    K-mati=  (jumlah benih mati)/(jumlah benih yang ditanamam) x 100 %  = 0/30 x 100 %  = 0 %



    Pengamatan viabilitas dan vigor benih pada media kertas merang terhadap pertumbuhan tanaman Kacang Hijau

    PTM= (jumlah benih hidup)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 28/30 x 100 % = 93,3 %

    DB= (∑▒〖KN I〗+∑▒〖 KN II〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = (28+0)/30 x 100 % = 93,3 %

    KST = (∑▒〖KN (kuat)〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 21/30 x 100 % = 70 %

    IV= (∑▒〖KN I〗)/(jumlah benih yang ditanam) x 100 %  = 28/30 x100% = 93,3 %

    KCT-max= 100/(∑▒〖hari hitung I〗) = 100/4 = 25 %⁄etmaL

    KCT-R= KCT/(KCT-max) x 100 %


    KCT= ((28⁄(30 x 100)))/5 + ((0⁄(30 x 100)))/6 + ((0⁄(30 x 100)))/7 + ((0⁄(30 x 100)))/8
     =  (23,33) + (0) + (0) + (0) = 23,33 %

KCT-R= KCT/(KCT-max) x 100 %

= (23,33 )/25 x 100 % = 93,3  %⁄etmaL

    BK-KN = 2,351 gram

     LPK= (BK-KN)/(∑▒KN) =(2,351 )/28  = 0,084 gram/KN
    T-50=4+[(28-0)/28]  x 1 hari = 5 hari

    K-ABN=  (jumlah benih abnormal)/(jumlah benih yang ditanamam) x 100 %  = 0/30 x 100 %  = 0 %


    K-mati=  (jumlah benih mati)/(jumlah benih yang ditanamam) x 100 %  = 2/30 x 100 %  = 6,66 %

4.2. Pembahasan
Adapun hasil dari pengamatan yang telah kami lakukan pada praktikum mengenai pengujian viabilitas dan vigor bnih tanaman dari tiga jenis media. Media yang digunakan pada praktikum ini diantaranya adalah media pasir, media arang sekam dan media kertas merang. Dari beberapa jenis benih yang dilakukan pada pengujian ini memiliki potensial tumbuh yang berbeda terutama dari pembeda jenis media yang digunakan. Untuk 7 jenis benih yang dilakukan pengujian menunjukan bahwa potensi tumbuh trtinggi apabila benih ditanam pada media kertas merang, disusul dengan media arang sekam dan terakhir adalah media pasir. Perbedaan potensi tumbuh ini dikarenakan perbedaan media yang digunakan, dengan perbedaan media ini tentu kelembaban, keberadaan air dan factor-faktor pendukung luar yang lain juga berbeda antar media atau substrat yang digunakan.
Untuk potensi tumbuh 7 jenis benih yang ditanam pada substrat kertas merang memiliki potensi yang paling tinggi dari antara 2 jenis substrat lainnya. Dari table pengamatan viabilitas dan vigor benih diatas perkecambahan yang terjadi pada media kertas merang memiliki potensi tertinggi hal ini dikarenakan substrat yang digunakan sangat sesuai untuk perkecambahan, tertutup rapat dan memiliki kelembaban sesuai dengan kebutuhan benih. Dengan kelembaban yang sesuai ini tentunya perkecambahan akan berlangsung sempurna. Namun perkecambahan yang dilakukan pada substrat ini memiliki kekurangan karena tidak adanya media tempat akar berpegang kuat karena media yang digunakan hanya kertas yang bertujuan untuk mengeluarkan plumula dan radikula pada benih tanaman. Untuk potensi benih abnormal pada media ini juga sangat kecil karena benih yang berkecambahan menunjukan pertumbuhan yang hampir sama untuk tiap benihnya.
Pada media arang sekam potensi tumbuh benih yang dilakukan dalam pengujian relative tinggi namun tidak setinggi kertas merang, hal ini dikarenakan kelembaban yang ada pada media atau substrat ini tidak terlalu tinggi karena keadaan yang terbuka dan air mudah menguap dari media ini. Pada media ini terlihat jelas benih yang memiliki potensi tumbuh kuat dan potensi tumbuh rendah karena pada media ini terdapat tempat tumbuh akar sehingga pertumbuhan tanaman sangat jelas terlihat antara kecambah yang tumbuh dengan potensi kuat dan kecambah yang tumbuh dengan potensi rendah. Potensi tumbuh benih kuat pada media ini lebih tinggi disbanding dengan yang lemah namun kacambah lemah pada media ini juga tinggi dalam arti banyak kecambah yang tumbuh lambat disbanding dengan yang kuat, hal ini dikarenakan media yang digunakan adalah arang sekam sehingga kecambah mudah dipengaruhi oleh factor luar dan kelembaban kurang. Untuk perkecambahan jangka panjang sangat baik dilakukan pada substrat ini karena selain benih menggunakan energinya sendiri setelah beberapa hari benih dapat menyerap energy dari unsure besar yang ada pada substrat kertas merang ini. Kecambah abnormal juga terdapat pada media ini hal ini dikarenakan factor luar dan factor genetis atau bawaan pada benih tanaman tersebut. Untuk benih yang memiliki postur tinggi memang mudah rebah namun dengan perlakuan khusus media kertas merang ini mungkin akan menjadi substrat yang sangat baik bagi perkecambahan benih yang baik bagi pertanian.
Untuk media pasir potensi tumbuh benih yang dilakukan pengujian memiliki potensi terendah dari antara substrat arang sekam dan substrat kertas merang. Hal ini dikarenakan media pasir memiliki kelembaban terendah diantara dua jenis media pengujian lain yang digunakan. Sifat dari pasir juga tidak mampu mengikat air dan panas sehingga air mudah menguap pada substrat ini, agregatnya kuat dan media ini keras sehingga pertumbuhan kecambah benih yang di tanam pada media ini lebih rendah disbanding dengan dua media lainnya. Memang pada media ini terdapat tempat tumbuh akar namun akar tidak mampu berkembang maksimal karena sifat pasir ini yang keras sehingga akar dari kecambah tanaman tidak mampu menembus media pasir secara maksimal. Pada substrat perkecambahan engan bahan dasar pasir ini benih yang dilakukan pengujian didapatkan benih abnormal yang sangat besar atau banyak diantara dua jenis substrat lainnya. Hal ini dikarenakan  media yang digunakan adalah media pasir yang tidak sesuai dengan lingkungan untuk perkecambahan sehingga pertumbuhan kecambah tertekan. Dari tiga jenis media potensi tumbuh benih yang dikecambahkan tentu memiliki potensi yang berbeda maupun secara keseluruhan ataupun perbenih tanaman. Hal ini dikarenakan perbedaan bahan yang digunakan pada pembuatan substrat perkecambahan dan masing masing substrat tersebut memiliki sifat yang dan kesesuaian yang berbeda untuk perkecambahan.





    PENUTUP

Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dari praktikum kali ini yaitu potensi tumbuh benih berbeda antar benih pada berbagai media atau substrat perkecambahan yang berbeda hal ini dikarenakan sifat dan kesesuaian untuk tumbuh kecambah berbeda pada barbagai media atau substrat yang digunakan.
Potensi kecambah yang baik didapat dari perkecambahan benih pada media atau substrat kertas merang dan arang sekam dan potensi perkecambahan rendah untuk media pasir. Hal ini dikarenakan kelembaban dan kesesuaian lingkungan pada media arang sekam dan kertas merang sesuai dengan keinginan benih untuk berkecambah dibanding dengan media pasir.
Perkecambahan merupakan tahap awal perkembangan suatu tumbuhan, khususnya tumbuhan berbiji. Viabilitas adalah kemampuan benih atau daya hidup benih untuk tumbuh secara normal pada kondisi optimum. Berdasarkan pada kondisi lingkungan pengujian viabilitas benih dapat dikelompokkan ke dalam viabilitas benih dalam kondisi lingkungan sesuai (favourable) dan viabilitas benih dalam kondisi lingkungan tidak sesuai (unfavourable). Vigor diartikan sebagai kemampuan benih untuk tumbuh normal pada keadaan lingkungan yang sub optimal. Vigor dipisahkan antara vigor genetik dan vigor fisiologi. Vigor genetik adalah vigor benih dari galur genetik yang berbeda-beda, sedang vigor fisiologi adalah vigor yang dapat dibedakan dalam galur genetik yang sama.



DAFTAR PUSTAKA

Ashari, Sumaru.1995. Hortikultura Aspek Budidaya. UI Press ; Jakarta

Blogspot. 2009 http://teknologibenih.blogspot.com. Diakses Pada Tanggal 25 Oktober 2012

Kamil, Jurnalis. 1979. Teknologi Benih I. Angkasa Raya; Padang

Kartasapoetra, Anto G. 1986. Pengelolaan Benih dan Tuntunan Praktikum. Bina Aksara; Jakarta

Pratiwi. 2000. Biologi. Erlangga; Jakarta

Rubenstin, Irwin dkk. 1978. The Plant Seed. Academi Press Inc; USA

Soetopo, Lita. 2002. Teknologi Benih. Rajawali Press; Jakarta

Sutopo, L. 2002. Teknologi Benih. Malang: Fakultas Pertanian UNBRAW Tjitrasam, 1983. Botani Umum I. Angkasa: Bandung.

Tjitrosoepomo, Gembong. 1985. Morfologi Tumbuhan. UGM Press; Yogyakarta

Wikipedia, 2012. Struktur dan type  buah. http//:www.wikipedia.com. Diakses pada tanggal 21 Oktober 2012.

Wordpres, 2012 http://yunosuyono.wordpress.com. Diakses Pada Tanggal 25 Oktober 2012